Dalam perayaan usia ke-50 Apple, perjalanan para pengguna setianya di Indonesia turut menarik perhatian. Salah satu sosok yang menonjol adalah Bagus Hernawan, seorang pria yang kini dikenal sebagai penggemar Apple sekaligus pengelola platform Appleisme.id. Kisah perjalanannya dengan produk Apple bermula bukan dari keinginan pribadi, melainkan sebuah hadiah dari orang tuanya, dilansir dari Detik iNET.
Titik awal kedekatan Bagus dengan ekosistem Apple terjadi pada tahun 2006. Saat itu, ia menerima MacBook White dengan prosesor Intel Core 2 Duo sebagai dukungan untuk kebutuhan kuliahnya. Seri MB403, angka yang sangat berkesan baginya, bahkan diabadikan menjadi nama pengguna Twitter pribadinya, @bhaguz_403, yang masih aktif hingga saat ini.
"Waktu pertama kali menggunakan Mac itu langsung amaze banget, karena sudah bisa dipakai begitu unboxing. Sistem operasi sudah terinstal, tinggal bikin Apple ID dan semuanya siap dipakai," kenang Bagus. Pengalaman "langsung pakai" ini menjadi perbedaan signifikan pada masanya, menghilangkan kerumitan instalasi dan penyiapan awal. Hal ini memicu ketertarikan Bagus terhadap ekosistem Apple.
Ketertarikan Bagus semakin mendalam ketika ia membeli produk Apple pertamanya dengan uang sendiri, yaitu iPod Touch generasi keempat. Meskipun awalnya berencana mempelajari pembuatan aplikasi iOS untuk skripsi yang kemudian tidak terealisasi karena kesulitan menemukan mentor, semangatnya tidak padam. Justru, seorang dosen dalam mata kuliah Sistem Operasi yang menggunakan MacBook Black, memberikan pesan penting: "Kalian sebagai mahasiswa Teknologi Informatika harusnya explore banyak sistem operasi." Pesan tersebut menjadi dorongan bagi Bagus untuk serius menjelajahi dunia Mac.
Sebelum memiliki MacBook, Bagus sudah aktif di forum Mac Club Indonesia, sebuah komunitas daring bagi pengguna Apple yang telah menjadi rumah digitalnya selama hampir dua dekade. Dari forum ini, ia tidak hanya belajar dan berbagi, tetapi juga aktif dalam kegiatan luring seperti kopi darat (kopdar) dan pertemuan rutin di berbagai kota. Di Yogyakarta, Bagus mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan lokal, yang awalnya hanya dihadiri empat orang, tetapi kemudian berkembang menjadi komunitas yang lebih besar.
Atas keaktifannya, Bagus dipercaya menjadi "kepala suku" Mac Club Indonesia regional Yogyakarta. Puncaknya pada tahun 2010, ia berhasil menyelenggarakan Gathering Nasional Mac Club Indonesia yang dihadiri sekitar 50 anggota dari berbagai kota. Pengalaman ini menunjukkan dedikasinya dalam membangun dan menjaga komunitas Apple di Indonesia.
Perjalanan Karier dan Pengalaman Berkesan
Menjelang kelulusannya, Bagus mulai berkarier sebagai penulis lepas di majalah PC Plus. Ia mengingat momen unik ketika menulis tentang Macintosh di majalah yang namanya identik dengan "PC". Pengalaman ini menjadi portofolio penting saat ia melamar ke MakeMac, sebuah media teknologi. Keputusan tersebut membawanya diterima dan memulai perjalanan di dunia media teknologi, hingga akhirnya menjabat sebagai Editor in Chief di MakeMac, sebelum mengelola Appleisme.id sebagai platform independen.
Selama 20 tahun sebagai penggemar Apple, Bagus memiliki banyak momen berkesan. Salah satu ritual uniknya adalah membeli iPhone baru setiap tahun di Apple Store dengan mengenakan kaus bergambar Steve Jobs. "Saya ajak Steve Jobs untuk lihat iPhone terbaru," katanya sembari menirukan respons Apple Genius yang sering mengajaknya berbincang.
Momen paling membekas bagi Bagus justru berasal dari layanan purna jual Apple. Ketika Apple mengumumkan program penarikan (recall) iPod Nano generasi pertama karena masalah baterai, Bagus turut serta meskipun perangkatnya sudah rusak dan hanya menjadi pajangan. Tanpa diduga, Apple menggantinya dengan iPod Nano generasi keenam secara gratis. "Padahal jarak rilisnya jauh banget. Tapi Apple tetap mengutamakan pelanggan," ujarnya, menunjukkan apresiasi terhadap komitmen Apple pada pelanggannya.
Kisah Penjualan dan Tips Membeli Apple Bekas
Selain menjadi enthusiast dan penulis, Bagus juga telah lama aktif dalam penjualan aksesori Apple sejak masa kuliah, bermula dari membantu teman. Saat pindah ke Jakarta, jaringannya di pasar Apple semakin luas, termasuk dengan penjual, produk non-resmi, hingga jasa servis. Masa pandemi COVID-19 menjadi titik balik saat toko-toko fisik tutup karena PSBB, memicu permintaan MacBook bekas untuk kebutuhan kerja dan kuliah daring. Bagus melihat peluang ini dan mengunggah produk dari temannya ke Twitter, yang ternyata menjadi viral.