Sepak bola Italia berada di ambang rekor buruk di Liga Champions musim ini. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade, tidak ada satu pun klub Serie A yang berpotensi lolos ke babak 16 besar.
Sejak format babak gugur 16 besar diperkenalkan pada musim 2003/04, setidaknya selalu ada satu tim Italia yang berpartisipasi. Bahkan, dalam 12 dari 22 musim terakhir, tiga tim Serie A berhasil mencapai fase ini.
Secara historis, sejak musim 1987/88, selalu ada wakil Italia di babak gugur. Namun, kekalahan mengejutkan Inter Milan dari Bodo/Glimt menambah tekanan bagi Serie A.
Kini, harapan Italia bertumpu pada Juventus dan Atalanta untuk membalikkan defisit dari leg pertama.
Juventus harus mengejar ketertinggalan 2-5 dari Galatasaray di Turin, sementara Atalanta berupaya membalikkan skor agregat 0-2 saat menjamu Borussia Dortmund pada Kamis (26-2-2026) dini hari WIB.
Inter, finalis musim lalu, kalah 1-2 di San Siro setelah takluk 1-3 di leg pertama. Kekalahan ini menandai pertama kalinya Inter tersingkir dari Liga Champions oleh tim di luar lima liga top Eropa.
Daniele Verri, seorang jurnalis Italia, menyebut kekalahan ini sebagai "peringatan besar bagi sepak bola Italia."
Menurutnya, Juventus harus menang 4-0 dan Atalanta butuh skor 3-0. Kegagalan kedua tim akan menjadi bencana bagi sepak bola Italia. Verri juga menyoroti kehadiran Ronaldo dan Christian Vieri di San Siro sebagai simbol kejayaan masa lalu.
Inter Milan pernah merekrut Ronaldo dan Vieri dengan biaya rekor dunia pada akhir 1990-an, saat Serie A menjadi liga paling bergengsi.
AC Milan juga pernah mengalahkan Juventus di final Liga Champions 2003, serta meraih gelar juara Eropa pada 2007.
Meski Atalanta menjuarai Liga Europa 2024 dan Roma meraih Conference League 2021, Inter era Jose Mourinho (2010) menjadi tim Italia terakhir yang menjuarai Liga Champions.
Ironisnya, Inter yang memimpin klasemen Serie A dengan selisih 10 poin atas rival Milan, justru tersingkir lebih awal dari Eropa.
Jurnalis Vincenzo Credendino menyebut ini sebagai "catatan sejarah buruk." Ia menekankan perlunya pemikiran jangka panjang untuk sepak bola Italia, yang menurutnya tertinggal dari liga-liga top Eropa.
Struktur dan Kecepatan Jadi Masalah
Kondisi klub Italia berdampak pada timnas, yang harus berjuang di babak play-off Maret untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Italia terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 2006.
Julien Laurens, pakar sepak bola Eropa, menilai situasi ini sebagai masa sulit bagi sepak bola Italia. Inter, menurutnya, memberikan tekanan, tetapi tidak cukup. Napoli pun gagal menembus babak gugur.
Musim ini, performa klub Italia di fase grup Liga Champions juga kurang memuaskan. Di babak play-off, mereka gagal melawan tim yang secara klasemen lebih rendah, tetapi bermain lebih intens.
Verri menekankan perlunya perubahan struktural dalam sepak bola Italia yang dinilainya lambat. Ia mencontohkan intensitas latihan di Inggris yang lebih tinggi dan dipertahankan sepanjang pertandingan.
Talenta Terbaik Merantau
Verri menilai klub Italia kehilangan pemain terbaik ke luar negeri, meski Inter memiliki skuad yang lebih mahal dengan gaji yang lebih tinggi dari Bodo.
Ia mencontohkan Mateo Retegui, top scorer Serie A musim lalu, yang pindah ke Al-Qadsiah di Arab Saudi, serta Ademola Lookman dan Tijjani Reijnders yang juga hijrah ke klub luar negeri.
Meski sebagian besar pemain timnas masih bermain di Italia, nama-nama seperti Gianluigi Donnarumma, Riccardo Calafiori, Sandro Tonali, dan Retegui kini bermain di luar negeri.
Laurens menambahkan bahwa klub Serie A kesulitan menghasilkan pemain muda yang siap bersaing di level tinggi. Ia menyoroti keberhasilan Sporting CP, Club Brugge, dan Bodo dalam scouting dan pengembangan akademi.
Saat ini, sepak bola Italia menghadapi tekanan struktural dan prestasi. Babak play-off menjadi ujian terakhir bagi Juventus dan Atalanta untuk mempertahankan reputasi Serie A di Eropa.