Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat telah menghambat aktivitas ekspor burung hias asal Indonesia pada periode awal tahun 2026. Gangguan tersebut dilaporkan terjadi hingga bulan Maret 2026 akibat ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Hambatan pengiriman ini berdampak langsung mengingat Timur Tengah dan Singapura merupakan destinasi utama bagi komoditas burung hias nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Budi Santoso saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Minggu (3/5/2026).
"Nah ini kan kebanyakan ekspornya ke Singapura sama Timur Tengah. Ini kan Timur Tengah lagi perang ya mungkin sedikit terdampak ya. Tapi sampai dengan Maret ini," ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kendati terdapat hambatan di kuartal pertama, Kementerian Perdagangan tetap memproyeksikan adanya tren positif untuk sisa tahun berjalan. Budi menyatakan optimisme bahwa volume ekspor akan kembali meningkat seiring dengan perluasan pasar di luar negeri yang dapat mendorong industri peternakan burung domestik.
Berdasarkan data performa tahun sebelumnya, sektor ini mencatatkan pertumbuhan yang sangat pesat. Nilai ekspor burung hias Indonesia pada tahun 2025 berhasil menyentuh angka Rp 12,5 miliar, yang merupakan hasil dari produk peternakan lokal.
Capaian pada tahun 2025 tersebut merepresentasikan lonjakan sebesar 237 persen jika dibandingkan dengan total ekspor pada tahun 2024. Meskipun potensi angka pasti untuk total ekspor tahun 2026 belum dipaparkan secara rinci, peningkatan pasar internasional menjadi tumpuan utama pemerintah.
Menteri Perdagangan berharap setelah melewati dinamika pada bulan Maret, grafik pengiriman komoditas ini dapat segera pulih. Fokus saat ini tertuju pada penguatan sektor peternakan agar mampu memenuhi permintaan global yang terus berkembang.