Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah ketidakpastian global menimbulkan tekanan signifikan terhadap bisnis perusahaan sekuritas di Indonesia. Kondisi ini utamanya disebabkan oleh penurunan aktivitas transaksi di pasar. Hal tersebut diungkapkan oleh analis investasi PT Infovesta Utama kepada Kontan pada 2 April 2026, seperti dilansir dari Detik iNET.
Infovesta mencatat bahwa rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan tajam. Dari sekitar Rp30 triliun pada Januari, angka tersebut menyusut menjadi sekitar Rp23 triliun pada Maret, dan bahkan hanya mencapai sekitar Rp14 triliun pada perdagangan terakhir. Penurunan ini mengindikasikan melemahnya partisipasi investor, khususnya ritel, yang kini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya.
Secara historis, koreksi pasar saham selalu diikuti oleh penurunan aktivitas transaksi, dan pola serupa kini kembali terlihat di pasar modal Indonesia. Banyak perusahaan sekuritas masih sangat bergantung pada pendapatan berbasis komisi. Oleh karena itu, penyusutan frekuensi dan nilai transaksi secara langsung menekan kinerja operasional mereka.
Infovesta menilai bahwa perlambatan ini merupakan sinyal bahwa minat transaksi jangka pendek sedang melemah karena investor menahan diri. Disebutkan bahwa risk appetite investor menurun, sehingga sebagian pelaku pasar memilih untuk menunggu di kas atau beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) juga tampak lebih sepi tahun ini. Situasi ini dipengaruhi oleh kombinasi kondisi pasar yang belum kondusif dan pengetatan regulasi setelah sorotan dari MSCI terhadap struktur pasar Indonesia.
Peluang Akumulasi dan Prospek Pemulihan
Meskipun tekanan pasar masih berlangsung, Infovesta melihat bahwa koreksi saat ini mulai membuka ruang bagi strategi bottom fishing untuk investor dengan horizon menengah hingga panjang. Valuasi saham yang dinilai sudah relatif murah dapat menjadi momentum untuk akumulasi secara bertahap. Namun, investor tetap disarankan untuk memperhatikan profil risiko masing-masing.
Pandangan ini menunjukkan bahwa pelemahan pasar tidak hanya dilihat sebagai tekanan bagi industri sekuritas, tetapi juga sebagai peluang selektif bagi investor. Untuk prospek ke depan, peluang pemulihan dinilai tetap terbuka jika sentimen global membaik. Infovesta mengidentifikasi bahwa tekanan pasar saat ini banyak berasal dari faktor eksternal, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi. Jika tensi geopolitik mereda dan harga komoditas kembali stabil, IHSG berpeluang pulih dan mendorong kembali aktivitas transaksi di pasar modal domestik.
Dampak bagi Pasar Modal Indonesia
Bagi industri sekuritas, penurunan nilai transaksi berisiko mempersempit pendapatan komisi dan memperlambat pertumbuhan bisnis pada tahun ini. Kondisi ini juga dapat menahan laju aktivitas pasar primer, termasuk IPO, karena emiten cenderung menunggu momentum valuasi dan permintaan yang lebih kuat. Dalam konteks yang lebih luas, arah pemulihan pasar saham Indonesia sangat terkait dengan perubahan sentimen global serta stabilitas harga energi dan komoditas.
Di sisi investor, pergeseran menuju sikap yang lebih defensif menunjukkan bahwa volatilitas masih menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Namun, jika tekanan eksternal mulai surut, pasar domestik berpotensi kembali menarik minat investor ritel maupun institusi. Hal tersebut akan menjadi faktor penting bagi pemulihan volume perdagangan dan perbaikan pendapatan perusahaan sekuritas.