Komite Eksekutif (Exco) PSSI menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus rasisme yang menimpa sejumlah pemain sepak bola Indonesia.
Arya Sinulingga, anggota Exco PSSI, menyoroti bahwa tindakan rasisme, terutama secara daring, kembali mencoreng dunia sepak bola tanah air. Beberapa pemain menjadi sasaran ujaran kebencian bernada rasis.
Mikael Alfredo Tata dari Persebaya Surabaya dan Kakang Rudianto dari Persib Bandung adalah korban terbaru. Keduanya mengalami rasisme setelah pertandingan Persebaya melawan Persib pada 2 Maret 2026.
Sebelumnya, Yakob dan Yance Sayuri dari Malut United juga mengalami hal serupa usai laga kontra Persib Bandung pada 14 Desember 2025. Selain itu, pemain Ratchaburi FC, Denilson Junior, turut menjadi sasaran rasisme setelah menghadapi Persib di AFC Champions League (ACL) Two 2025/2026.
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play," ujar Arya.
Arya menambahkan bahwa anti-rasisme seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola. Ia merasa heran mengapa tindakan rasisme masih kerap terjadi di Indonesia. Ia mempertanyakan mengapa bangsa Indonesia yang sering menjadi korban rasisme di negara lain, justru melakukan tindakan serupa.
"Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola. Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis," kata Arya.
Arya berharap agar masyarakat lebih bijak dalam berucap dan menulis, terutama di media sosial. Ia juga meminta PSSI Pers untuk turut serta memberikan kesadaran mengenai pentingnya anti-rasisme dalam sepak bola.
"Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir," ucap Arya.
"Sebenarnya lucu juga, kita orang Indonesia itu rasis. Karena biasanya justru kita yang terkena rasis, di mana-mana hampir seperti itu," jelas Arya.