Sekelompok mahasiswi tingkat akhir Marketing Communication dari LSPR Institute of Communication & Business menyelenggarakan acara edukasi bertajuk "9 to 5" di Queens Head, Kemang, Jakarta Selatan, pada April 2026. Inisiatif ini bertujuan mempromosikan praktik slow fashion dan ekonomi sirkular untuk mengurangi dampak buruk industri pakaian terhadap lingkungan.
Dilansir dari Medcom, kegiatan ini mengusung pesan "Help Our Planet Revive" melalui rangkaian talkshow, peragaan busana, dan lokakarya interaktif bagi para pengunjung. Penyelenggara mendorong masyarakat untuk mengevaluasi kembali kebiasaan konsumsi pakaian demi keberlanjutan bumi.
Praktisi industri fashion, Dino Augusto, mengungkapkan dalam sesi diskusi bahwa limbah tekstil merupakan penyumbang pencemaran terbesar kedua di dunia setelah limbah industri lainnya. Menurutnya, volume produksi pakaian saat ini telah melampaui kebutuhan nyata populasi global.
Dino memperkirakan jumlah pakaian yang diproduksi saat ini sudah mencukupi kebutuhan hingga sembilan generasi ke depan. Kondisi tersebut memicu masalah overproduksi dan konsumsi berlebihan yang terus membebani ekosistem lingkungan secara berkelanjutan.
Konsep ekonomi sirkular ditekankan sebagai solusi utama melalui praktik penggunaan kembali (reuse), perbaikan (repair), dan pengalihfungsian (repurpose). Masyarakat diajak memandang pakaian sebagai aset bernilai dengan umur panjang, bukan sekadar barang sekali pakai.
"Implementasinya keren, tidak hanya berhenti di 3R tetapi berkembang hingga 9R. Karena kalau bukan kita sebagai generasi muda yang mulai sadar, lalu siapa lagi?" kata Revy Marlina, S. Sos, MA, Dosen LSPR Institute of Communication & Business.
Peserta yang hadir, termasuk pengunjung bernama Aisha dan Andien, menyatakan bahwa acara ini mengubah perspektif mereka dalam berbelanja pakaian. Mereka mulai menyadari pentingnya menolak pembelian yang tidak perlu (refuse) serta lebih kreatif dalam memadupadankan koleksi busana yang sudah dimiliki.