Sebuah startup teknologi bernama Memvid menawarkan pendekatan berbeda untuk menguji keandalan sistem kecerdasan buatan (AI). Mereka membuka lowongan pekerjaan unik sebagai "Professional AI Bully" dengan imbalan USD 800 atau sekitar Rp 13 juta per hari.
Tugas utama pekerjaan ini adalah menguji ketahanan chatbot AI. Kandidat yang terpilih akan memberikan pertanyaan berulang, menguji memori, serta mendokumentasikan potensi kegagalan sistem dalam mempertahankan konteks percakapan.
Memvid menjelaskan bahwa keterbatasan memori menjadi masalah utama chatbot saat ini. Model AI, termasuk large language model, mampu meniru percakapan cerdas, namun sering kali kehilangan konteks dalam beberapa interaksi. Akibatnya, pengguna terpaksa mengulang informasi atau pertanyaan.
Lowongan ini sekaligus menjadi cara bagi Memvid untuk menyoroti isu tersebut. Kandidat yang berhasil lolos seleksi akan bertugas mencatat setiap kegagalan chatbot, termasuk percakapan yang tidak masuk akal atau respons yang tidak relevan.
Menurut CEO Memvid, Mohamed Omar, kemampuan mempertahankan konteks sangat krusial bagi chatbot, tetapi sulit diwujudkan. Ia juga menambahkan bahwa banyak masalah, seperti halusinasi AI, berkaitan erat dengan sistem memori yang belum optimal.
Memvid mengklaim telah mengembangkan solusi berupa lapisan memori berbasis file yang dapat meningkatkan konsistensi konteks percakapan. Teknologi ini disebut mampu meningkatkan akurasi, efisiensi, dan respons AI, baik melalui chatbot internal maupun tools untuk pengembang.
Syarat unik juga diterapkan dalam lowongan ini. Kandidat tidak memerlukan pengalaman teknis khusus, namun diharapkan memiliki pengalaman buruk dengan teknologi dan opini yang kuat tentang kelemahan AI.
Fenomena ini mencerminkan masalah yang kian nyata dalam penggunaan sehari-hari. Chatbot AI seringkali kesulitan menangani data besar atau percakapan panjang tanpa kehilangan arah, seperti dilansir detikINET dari Techspot, Kamis (26/3/2026).
Inisiatif Memvid ini dapat dipandang sebagai strategi promosi sekaligus pengingat bahwa di balik kemajuan pesat AI, masih terdapat keterbatasan mendasar yang perlu diatasi.