Kemampuan literasi di kalangan peserta didik Indonesia masih menjadi perhatian serius. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti rendahnya literasi siswa di Indonesia dan menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak cukup hanya dengan mengajarkan anak membaca secara teknis, seperti dikutip dari Medcom.
Menurut Mu'ti, fokus harus beralih pada pembentukan budaya membaca yang kuat sejak usia dini. "Membaca bukan sekadar mengejar kemampuan teknis, tapi memahami isi bacaan," ujar Mu'ti di Jakarta, Kamis, 9 April 2026, dalam sebuah acara yang juga melibatkan UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti memaparkan tiga strategi utama yang krusial untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan literasi serta numerasi siswa. Strategi ini mencakup kompetensi, kebiasaan, dan budaya membaca.
1. Bangun Kompetensi Melalui Pembelajaran Tepat
Strategi pertama adalah membangun kompetensi siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan usia mereka dan menerapkan strategi yang mendorong kemampuan berpikir dasar. Mu'ti menjelaskan bahwa literasi dan numerasi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan berpikir. Kemampuan menalar dan memahami teks merupakan indikator penting kecakapan siswa.
Ia menambahkan, "Kita melihat di lapangan belum seluruhnya proses belajar terutama mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis itu diberikan secara tepat. Sering sekali hal ini dilupakan karena membaca bukan sekadar mengeja huruf, tetapi membaca itu adalah kemampuan untuk menalar, kemampuan memahami apa yang dibaca dan itu bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, sangat basic."
2. Bentuk Kebiasaan Membaca Sejak Dini
Strategi kedua berpusat pada pembentukan kebiasaan membaca atau reading habit. Mu'ti menekankan bahwa kebiasaan membaca dan kompetensi membaca harus berjalan beriringan dan saling melengkapi. Kebiasaan ini dapat dibentuk melalui penyediaan bahan bacaan yang menarik dan relevan dengan kebutuhan anak.
“Bagaimana anak-anak itu memiliki reading habit, kebiasaan membaca. Yang kebiasaan membaca dengan kompetensi membaca ini bisa dua-duanya saling melengkapi,” tuturnya.
3. Ciptakan Budaya Membaca Merata
Strategi ketiga adalah membentuk budaya membaca atau reading culture. Hal ini dilakukan dengan memastikan ketersediaan bahan bacaan yang merata di berbagai lingkungan, tidak hanya di sekolah. Bahan bacaan juga tidak harus selalu berupa buku. Media lain seperti koran atau majalah dapat dimanfaatkan untuk menstimulasi minat baca anak.
“Di mana-mana mereka ketemu buku, di mana-mana mereka bisa menemukan bahan bacaan. Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku, bisa berupa koran, bisa berupa majalah atau apa pun bahan bacaan yang mendorong menstimulasi anak kita ini untuk senantiasa lekat dekat dan membiasakan diri membaca,” jelas Mu'ti.
Peran Lingkungan dan Kolaborasi
Abdul Mu'ti juga menyoroti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang belum maksimal, menegaskan bahwa Indonesia belum sepenuhnya pulih dari masalah literasi dan numerasi. Menurutnya, kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung adalah fondasi utama pembelajaran yang juga membangun kepercayaan diri siswa.
Pentingnya dukungan dari semua pihak ditekankan Mu'ti, karena lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan membaca. "Lingkungan juga sangat memengaruhi kebiasaan membaca. Karena itu, perlu dukungan semua pihak," imbuhnya. Diharapkan kebiasaan membaca yang kuat ini dapat terbentuk sejak dini, sehingga anak-anak tumbuh dengan karakter literasi yang kokoh hingga dewasa.