Mendiktisaintek Dorong Kampus Asing Berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi Lokal

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mendukung masuknya kampus asing ke Indonesia, dengan prioritas kolaborasi bersama kampus dalam negeri.

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, membuka peluang bagi perguruan tinggi asing untuk beroperasi di Indonesia. Ia bahkan mengizinkan pendirian kampus luar negeri secara mandiri di Tanah Air, meskipun prioritas utamanya adalah mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan lokal.

Seperti dilansir dari Medcom, Brian Yuliarto menyampaikan bahwa pemerintah menyambut baik jika ada kampus internasional yang berkeinginan untuk membangun fasilitasnya sendiri. Pernyataan tersebut disampaikannya saat ditemui di kantor Kemendiktisaintek, Jakarta, pada Selasa, 7 April 2026.

Namun, Brian menegaskan bahwa model kerja sama yang lebih didorong adalah kemitraan antara kampus asing dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan program studi bersama, seperti program gelar ganda atau joint degree.

Salah satu contoh kolaborasi yang disebutkan adalah antara Oxford University dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Melalui program semacam ini, kampus-kampus di Indonesia dapat ikut diberdayakan dan kualitas pendidikan dapat ditingkatkan.

Selain mendorong kolaborasi kampus, Brian Yuliarto sebelumnya juga mengungkapkan rencana pembangunan sepuluh kampus medis di Indonesia. Proyek ini akan melibatkan kerja sama dengan universitas-universitas dari Inggris, sebagaimana disampaikannya dalam Raker Komisi X DPR RI pada Kamis, 5 Februari 2026.

Kehadiran kampus medis baru ini akan sepaket dengan pembangunan rumah sakit berkelas internasional. Tujuan utamanya adalah untuk menekan jumlah masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, dengan menyediakan fasilitas kesehatan berkualitas tinggi di dalam negeri.

Brian juga sempat menjadikan John Hopkins University sebagai referensi dalam pengembangan kampus medis tersebut. Ia percaya, selain memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, kampus ini juga mampu mempercepat layanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Universitas khusus medis ini tidak hanya akan berfokus pada pendidikan dokter, melainkan juga menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan. Di dalamnya direncanakan akan ada Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Ilmu Hayati, Teknologi Kedokteran, hingga Keperawatan. Struktur ini dirancang untuk menciptakan pendidikan bidang kedokteran yang terintegrasi dan komprehensif.

Ketimpangan Lulusan Bidang Kesehatan

Mendiktisaintek juga menyoroti ketimpangan jumlah lulusan di bidang kesehatan di Indonesia. Dari total 246 ribu lulusan setiap tahun, mayoritas adalah perawat dan bidan, sementara jumlah dokter hanya sekitar 12 ribu per tahun.

Brian berharap proporsi lulusan di bidang kesehatan dapat lebih seimbang dan sesuai dengan kebutuhan nasional. Oleh karena itu, sebaran fakultas kedokteran di seluruh Indonesia menjadi perhatian serius ke depan. Meskipun fakultas kedokteran saat ini relatif tersebar, masih banyak yang terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera, sehingga perlu peningkatan di wilayah timur Indonesia.

Recommended