Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik proses pendalaman pasar modal di Indonesia yang dinilai jalan di tempat sejak dua dekade terakhir saat menghadiri peresmian program investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Senin (27/4/2026).
Dilansir dari Detik Finance, Purbaya menyebutkan bahwa narasi mengenai perluasan struktur pasar modal sudah sering terdengar sejak tahun 2000, namun realisasinya hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal atau mendalam.
"Saya sudah dengar istilah pendalaman pasar modal sejak tahun 2000, sampai sekarang nggak dalam-dalam. Mungkin kita pakai cangkul yang salah, digali nggak dalam-dalam tuh," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Langkah pendalaman pasar modal sejatinya bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui peningkatan jumlah investor, diversifikasi instrumen investasi, serta menciptakan pasar yang lebih likuid dan transparan bagi pemodal domestik maupun asing.
Kritik ini muncul di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami tekanan signifikan dengan koreksi mencapai 16,89% sepanjang tahun berjalan 2026.
Berdasarkan data pasar, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di angka 9.134,700 pada awal tahun, namun merosot tajam ke posisi 7.184,44 dalam periode perdagangan terakhir akibat fluktuasi pasar global.
Meski terjadi penurunan drastis, Purbaya menyatakan tetap optimistis bahwa IHSG memiliki peluang untuk mencetak rekor baru ke level 10.000 pada tahun ini jika didukung oleh fundamental ekonomi yang terjaga.
Pemerintah saat ini sedang merancang percepatan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pondasi fiskal guna mendorong kepercayaan investor terhadap pasar saham nasional di masa depan.
Upaya penguatan tersebut dilakukan dengan memastikan kondisi makroekonomi tetap stabil sehingga otomatis mendorong kenaikan indeks saham secara berkelanjutan seiring membaiknya sentimen pasar.