Mikroplastik telah mencapai kedalaman 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (ITF), atau dikenal juga sebagai Indonesian Throughflow/ITF. Temuan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa partikel plastik ini dapat masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Marine Pollution Bulletin (2024) oleh Corry Yanti Manullang dari BRIN bersama tim internasional, menyoroti distribusi vertikal mikroplastik di Arlindo, sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia.
Arlindo mengalir melalui selat-selat penting di Indonesia, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok. Corry menjelaskan dalam pernyataan tertulisnya pada Minggu (8/3/2026), bahwa Arlindo berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik selain massa air, garam, dan nutrien.
Penelitian sebelumnya tentang Arlindo umumnya fokus pada suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Studi tentang distribusi mikroplastik di kolom air, terutama di laut dalam, masih terbatas.
Corry menambahkan, penelitian ini menjadi studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir.
Ekspedisi oseanografi dilakukan dari Januari hingga April 2021 sebagai bagian dari program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air pada berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter.
Pengambilan sampel menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth), memungkinkan pengambilan air secara spesifik pada kedalaman tertentu. "Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter," kata Corry.
Dari analisis 872 liter air laut, ditemukan 924 partikel mikroplastik, dengan konsentrasi rata-rata 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer.
Analisis menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik berbentuk serat (fiber), yang umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis. "Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan," jelas Corry.
Selain serat, diidentifikasi polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane, yang digunakan dalam tekstil, kemasan, dan bahan industri. Temuan ini menunjukkan potensi laut dalam sebagai lokasi akumulasi mikroplastik. Corry menjelaskan, arus Arlindo yang kuat dapat membawa partikel plastik ke berbagai lapisan air.
Penelitian lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana (2024) menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh kopepoda, zooplankton kecil di jalur Arlindo. Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis, dan 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalamnya.
Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda. "Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan," kata Corry.
Kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik. Karena kopepoda merupakan sumber makanan bagi ikan, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia. "Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia," ujarnya.
Corry menekankan perlunya pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai mikroplastik di laut Indonesia, terutama di wilayah laut dalam. Ia menuturkan, sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.
"Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan," kata Corry.
Ia berharap penelitian ini dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan. Menurutnya, pemahaman yang lebih baik tentang distribusi mikroplastik juga penting untuk mendukung upaya pengelolaan sampah plastik dan perlindungan ekosistem laut di Indonesia.