KELA Temukan 2,86 Miliar Kredensial Pengguna Bocor Akibat Malware Infostealer

Laporan KELA mengungkap kebocoran 2,86 miliar kredensial akibat serangan malware infostealer yang meningkat sepanjang tahun 2025 di seluruh dunia.

Laporan State of Cybercrime 2026 yang dirilis oleh firma keamanan KELA menemukan sebanyak 2,86 miliar kredensial pengguna internet bocor akibat serangan malware infostealer sepanjang tahun 2025 di seluruh dunia. Data ini mencakup kata sandi hingga cookie sesi yang berisiko memicu peretasan akun secara massal pada Minggu (3/5/2026).

Dilansir dari Detik iNET, tercatat ada sekitar 3,9 juta perangkat unik di berbagai negara yang terinfeksi malware pencuri data sensitif tersebut. Infeksi ini mengakibatkan 374,5 juta kredensial spesifik terekspos dan diperjualbelikan di pasar gelap para penjahat siber.

Kredensial yang berhasil dicuri tidak hanya berupa username dan password, tetapi juga menyasar token autentikasi. Hal ini memungkinkan peretas untuk melewati sistem keamanan otentikasi dua faktor atau 2FA yang selama ini dianggap cukup aman bagi pengguna.

Analisis KELA menunjukkan pergeseran target serangan yang kini mulai menyasar pengguna perangkat berbasis macOS. Jumlah infeksi pada sistem operasi milik Apple tersebut melonjak tajam dari kurang dari 1.000 kasus pada 2024 menjadi lebih dari 70.000 kasus pada tahun 2025.

Metode penyusupan malware ini dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari email phishing yang dipersonalisasi menggunakan kecerdasan buatan (AI) hingga iklan berbahaya di mesin pencari. Pelaku juga memanfaatkan aplikasi bajakan dan pembaruan perangkat lunak palsu untuk menanamkan trojan ke dalam sistem korban.

Teknik serangan lain yang diidentifikasi meliputi modifikasi ekstensi browser dan manipulasi skrip manual yang menipu pengguna agar meretas akun mereka sendiri. Serangan rantai pasokan melalui peniruan identitas tim DevOps juga digunakan untuk mencuri hak akses tingkat tinggi.

Pakar keamanan menyarankan pengguna untuk segera memperbarui seluruh sistem operasi dan perangkat lunak guna memitigasi risiko infostealer. Penggunaan password manager dan pengaktifan 2FA di setiap layanan digital tetap menjadi langkah preventif utama yang direkomendasikan untuk melindungi integritas data pribadi.

Recommended