Staf Peneliti Kelompok Keahlian Sistem Kendali dan Komputer ITB, Hilwadi Hindersah, menegaskan bahwa medan magnet pada rel kereta api bukan penyebab utama mobil listrik mati mendadak pada Senin (27/4/2026) malam. Penjelasan ini merespons kekhawatiran masyarakat setelah sebuah taksi listrik mengalami insiden di perlintasan Stasiun Bekasi Timur.
Asumsi mengenai gangguan elektromagnetik yang melumpuhkan perangkat elektronik kendaraan listrik dinilai tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari Medcom, kekuatan medan magnet yang dihasilkan oleh sistem rel, termasuk pada jalur KRL, tergolong sangat kecil dan tidak terpusat sehingga dampaknya saling meniadakan.
Pengelola perlintasan kereta api seperti PT KAI juga telah melengkapi infrastruktur mereka dengan perangkat proteksi khusus. Penggunaan teknologi seperti EMC Filter atau Tuned Track Circuit berfungsi untuk membatalkan aliran medan magnet yang berada di sepanjang jalur rel aktif.
"Selain itu, yang saya tahu biasanya perusahaan Kereta api, sepanjang rel memiliki perangkat pelindung atau proteksi seperti misalnya EMC Filter atau yang lebih modern Tuned Track Circuit sehingga dapat meng-cancel medan magnet yang yang mengalir sepanjang rel yang dilalui KRL," kata Hilwadi Hindersah, yang juga merupakan pengajar di STEI ITB.
Hilwadi menekankan bahwa mogoknya kendaraan di atas rel lebih sering dipicu oleh kombinasi faktor teknis kendaraan serta kondisi situasional di lapangan. Hal ini berbeda dengan persepsi publik yang sering mengaitkan kegagalan fungsi komponen elektronik mobil listrik dengan radiasi magnetik dari rel.
Insiden terbaru yang memicu diskusi ini melibatkan satu unit armada taksi Green SM yang terhenti di tengah rel sebelum akhirnya tertabrak KRL rute Cikarang-Jakarta. Kesalahpahaman informasi mengenai pengaruh magnet rel terhadap sistem kendali komputer mobil listrik dinilai perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kecemasan berlebih bagi pengguna kendaraan elektrifikasi.