Laporan keamanan siber terbaru dari Bitdefender pada Minggu (10/5/2026) mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus pengambilalihan akun WhatsApp terjadi akibat kelalaian pengguna dalam memberikan akses akses verifikasi secara sukarela kepada pelaku kejahatan digital.
Metode manipulasi psikologis atau social engineering menjadi senjata utama pelaku untuk mengelabui korban agar menyerahkan kode One-Time Password (OTP) yang dikirimkan sistem. Dilansir dari Medcom, Bitdefender menekankan bahwa celah keamanan lebih banyak ditemukan pada interaksi pengguna dibandingkan bobolnya sistem enkripsi aplikasi.
Pelaku biasanya mendaftarkan nomor telepon korban pada perangkat baru dan berpura-pura menjadi rekan atau otoritas resmi untuk meminta kode verifikasi yang masuk. Jika korban menyerahkan enam digit angka tersebut, pelaku dapat langsung menguasai akun dan mengakses seluruh kontak yang tersimpan.
Selain pencurian kode OTP, terdapat modus pembajakan melalui penyalahgunaan fitur WhatsApp Web dengan menggunakan kode QR palsu. Korban yang memindai kode berbahaya pada situs tiruan tanpa sengaja menautkan akun mereka ke perangkat milik peretas sehingga seluruh aktivitas percakapan dapat dipantau.
Bitdefender juga mengidentifikasi teknik "WhatsApp Forward Call" yang memanfaatkan kode MMI untuk mengalihkan panggilan telepon ke nomor pelaku. Melalui cara ini, peretas dapat menerima kode verifikasi akun melalui layanan panggilan suara (voice call) setelah panggilan dialihkan secara otomatis.
Indikasi akun telah dibajak dapat dikenali melalui munculnya pesan terkirim sendiri atau status pesan yang sudah terbaca meski pengguna belum membukanya. Tanda lain yang paling jelas adalah keberadaan perangkat asing yang tidak dikenal pada menu Perangkat Tertaut (Linked Devices) di dalam pengaturan aplikasi.
Penggunaan perangkat lunak berbahaya atau spyware juga menjadi ancaman serius yang dapat menyusup melalui tautan mencurigakan atau aplikasi pihak ketiga. Keberadaan spyware ini sering kali ditandai dengan penurunan performa ponsel secara mendadak, seperti baterai yang cepat habis, sistem sering membeku, atau perangkat terasa lambat.
Langkah pencegahan utama yang disarankan adalah mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah sebagai lapisan keamanan tambahan. Pengguna diminta untuk rutin memeriksa daftar perangkat yang terhubung dan segera keluar (logout) jika menemukan sesi aktif dari perangkat yang tidak dikenali.