Di tengah rekor kinerja perusahaan, raksasa perbankan investasi asal AS, Morgan Stanley, dikabarkan melakukan PHK terhadap sekitar 2.500 karyawan di berbagai lini bisnisnya. Langkah ini dinilai kontradiktif dengan pencapaian perusahaan.
Menurut laporan Reuters, Kamis (5/3/2026), pemangkasan karyawan ini terutama menyasar tiga divisi utama, yaitu investment banking and trading, wealth management, dan investment management. Namun, posisi penasihat keuangan dikabarkan tidak terkena dampak PHK.
Sumber internal yang mengetahui informasi ini mengungkapkan kepada Reuters bahwa PHK didasarkan pada strategi dan kinerja individu. Bank tersebut juga berencana menambah jumlah karyawan di bidang lain.
Hingga 31 Desember 2025, Morgan Stanley memiliki sekitar 82.992 karyawan di seluruh dunia. PHK ini berdampak pada sekitar 3% dari total tenaga kerja global perbankan tersebut.
Langkah efisiensi ini terjadi setelah Morgan Stanley mencatat kinerja yang sangat baik pada tahun 2025, dengan membukukan pendapatan tahunan tertinggi sepanjang sejarah.
Pada Januari lalu, Morgan Stanley juga melaporkan laba kuartal IV yang melampaui ekspektasi analis Wall Street. Kinerja ini didorong oleh lonjakan pendapatan investment banking hingga 47%, seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi korporasi dan hampir dua kali lipatnya biaya penjaminan emisi utang.
Sebelumnya, para eksekutif perbankan juga sempat menyampaikan optimisme terhadap prospek bisnis pada tahun 2026, didukung oleh pipeline merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana saham (IPO) yang dinilai masih kuat.
Volatilitas pasar yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada bisnis teknologi lama serta ketegangan geopolitik justru meningkatkan aktivitas perdagangan di meja trading. Banyak klien memposisikan ulang portofolio mereka untuk melindungi diri dari berbagai risiko.
Gelombang PHK serupa juga terjadi di berbagai perusahaan AS sejak awal tahun ini. Banyak perusahaan mulai merampingkan operasional mereka seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam lini bisnisnya.
Perusahaan pembayaran yang dipimpin oleh Jack Dorsey, Block, bahkan melakukan PHK besar-besaran terhadap lebih dari 4.000 pekerja pada akhir bulan lalu sebagai bagian dari restrukturisasi untuk mengintegrasikan teknologi AI ke seluruh operasional perusahaan. Jumlah ini hampir 50% dari total karyawan perusahaan.