Muhammad Rizky Jadi Wisudawan Pascasarjana UGM Termuda di Usia 22 Tahun

Muhammad Rizky Perwira Zain dinobatkan sebagai lulusan termuda Magister UGM pada usia 22 tahun setelah menyelesaikan program percepatan Block Elective.

Muhammad Rizky Perwira Zain resmi dinobatkan sebagai lulusan termuda dalam Wisuda Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung pada Rabu, 22 April 2026. Wisudawan yang akrab disapa Kiki ini menyelesaikan studi magisternya pada usia 22 tahun 2 bulan 8 hari.

Pencapaian tersebut terpaut jauh dari rata-rata usia lulusan Program Magister periode ini yang mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari. Dilansir dari Medcom, Kiki merupakan lulusan Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

Keberhasilan Kiki menamatkan studi di usia muda bermula dari keikutsertaannya dalam program Block Elective saat masih menempuh jenjang sarjana. Program tersebut memungkinkan mahasiswa mengambil jalur percepatan dengan memulai studi magister sejak semester akhir masa sarjana.

Kurikulum program tersebut menggabungkan pendidikan sarjana Kedokteran dan magister Kesehatan Masyarakat dalam waktu yang beririsan. Kiki memutuskan untuk mengambil jalur ini sejak semester enam, meskipun konsekuensinya ia harus menunda pendidikan profesi dokter atau koas selama satu tahun.

"Ini keputusan yang agak besar karena saya harus menunda waktu koas satu tahun untuk menjalani S2 dulu," kata Muhammad Rizky Perwira Zain, Wisudawan Termuda Pascasarjana UGM. Keputusan tersebut ia ambil setelah melalui diskusi panjang bersama keluarganya.

Selama masa studi, Kiki menghadapi beban akademik ganda dengan menyusun skripsi sarjana sekaligus mengikuti perkuliahan magister yang padat. Selain jadwal kuliah yang intensif, ia juga tetap menjalankan aktivitas organisasi di Tim Bantuan Medis.

Tantangan lain muncul saat ia memasuki semester kedua magister karena harus beradaptasi dengan lingkungan mahasiswa senior. Kiki juga sempat mengalami kelelahan saat dituntut melakukan penelitian lapangan bersamaan dengan penyusunan rancangan awal tesisnya.

Dalam tugas akhirnya, Kiki meneliti faktor keberhasilan berhenti merokok di Indonesia menggunakan data skala nasional dan referensi dari World Health Organization (WHO). Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa kelompok usia muda lebih banyak berupaya berhenti merokok, namun keberhasilan nyata justru lebih banyak ditemukan pada kelompok usia tua karena faktor penyakit.

Kiki menekankan bahwa kunci keberhasilannya bukan hanya soal kecerdasan, melainkan ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalani setiap tahapan studi. Ia mengingatkan rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk selalu menyeimbangkan usaha maksimal dengan doa dan restu orang tua agar proses akademik berjalan efektif.

Recommended