Mu’ti Analogikan Lailatul Qadar dengan Midnight Sale Pahala

Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menganalogikan Lailatul Qadar seperti midnight sale, kesempatan umat Islam borong pahala.

Malam Lailatul Qadar, yang lebih mulia dari seribu bulan, menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah. Allah SWT memberikan motivasi berupa "bonus" pahala di penghujung Ramadan agar umat Islam memaksimalkan waktu yang ada.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menganalogikan Lailatul Qadar dengan fenomena midnight sale. Menurutnya, malam tersebut adalah peluang besar untuk meraih pahala berlipat ganda.

“Dalam teori marketing, diskon dan bonus hanya bermakna bagi mereka yang membeli produknya. Begitu juga dengan Lailatul Qadar; semurah atau semulia apa pun bonus pahala yang ditawarkan, ia hanya akan didapatkan oleh mereka yang benar-benar ‘berbelanja’ dengan melakukan ibadah dan iktikaf,” kata Mu'ti dalam ceramahnya di Masjid At-Tanwir, Jakarta, seperti dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Selasa, 17 Maret 2026.

Abdul Mu’ti mengutip pandangan Quraish Shihab tentang makna “Qadar”. Pertama, Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan. Kedua, malam tersebut merupakan waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ketiga, kata “Qadar” bermakna sempit karena waktu malam yang terbatas hingga fajar dan banyaknya malaikat yang turun.

“Sempit karena waktunya terbatas dan karena banyaknya malaikat yang turun sehingga seolah-olah berdesak-desakan,” jelasnya.

Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa kemuliaan hidup manusia bergantung pada pengamalan ajaran Al-Qur’an. Implementasi nilai-nilai syariat dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci utama untuk meraih kemuliaan. “Jika kita mengamalkan syariat Allah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya persatuan umat Islam dalam menyambut Idulfitri, dan mengingatkan agar perbedaan pandangan disikapi dengan bijaksana.

Recommended