Negara BRICS+ Dominasi Pembelian Emas Global hingga April 2026

Blok BRICS+ menyumbang lebih dari 50 persen pembelian emas dunia antara 2020-2024 sebagai langkah diversifikasi dari dolar AS.

Negara-negara yang tergabung dalam blok BRICS+ secara masif meningkatkan cadangan emas mereka hingga April 2026 sebagai langkah strategis dalam menggeser tatanan keuangan global. Berdasarkan data periode 2020 hingga 2024, bank sentral anggota BRICS+ menyumbang lebih dari 50 persen dari total pembelian emas oleh bank sentral di seluruh dunia.

Porsi kepemilikan emas blok ini terhadap cadangan dunia melonjak signifikan dari 11,2 persen pada tahun 2019 menjadi 17,4 persen saat ini. Sebagaimana dilansir dari Medcom, tren agresif ini mendorong total cadangan emas kolektif negara-negara BRICS+ melampaui angka 6.000 ton.

Tiongkok, Rusia, dan India tercatat sebagai pemegang cadangan logam mulia terbesar dalam kelompok tersebut. Rusia memimpin dengan simpanan 2.336 ton, disusul oleh Tiongkok sebanyak 2.298 ton, dan India yang memegang 880 ton emas.

Aktivitas pasar tetap dinamis dengan kembalinya Brasil melakukan pembelian pada September 2025 yang menambah cadangannya sebesar 16 ton menjadi total 145,1 ton. Secara global, bank sentral kolektif mencatatkan pembelian tahunan di atas 1.000 ton sepanjang 2022 hingga 2024, sebelum mencapai angka 863 ton pada 2025.

Ekspansi keanggotaan BRICS pada 2025 yang kini mencakup 10 negara termasuk Indonesia, Mesir, dan Iran, memperkuat pengaruh ekonomi blok ini. Kelompok tersebut kini mewakili sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli.

Pergeseran strategi dari aset berbasis dolar ke emas dipicu oleh beberapa faktor risiko, termasuk kekhawatiran atas utang pemerintah Amerika Serikat yang mencapai puluhan triliun dolar. Selain itu, risiko geopolitik dan sanksi internasional mendorong negara-negara mencari aset cadangan yang tidak dapat dibekukan secara sepihak.

Momentum percepatan diversifikasi ini menguat sejak pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022 silam. Data menunjukkan bahwa porsi dolar dalam cadangan global yang sempat mencapai 70 persen pada akhir 1990-an kini telah menyusut ke kisaran 50 hingga 60 persen.

Survei terhadap bank sentral di seluruh dunia menunjukkan bahwa 73 persen otoritas moneter memprediksi pangsa cadangan dolar akan terus menurun di masa depan. Meskipun dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama, diversifikasi ke aset netral seperti emas dipandang sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi jangka panjang.

Recommended