Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga ditutup pada level Rp 17.286 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (23/4/2026). Pergerakan mata uang Garuda tercatat sempat tertekan tajam hingga menembus angka Rp 17.310 pada pembukaan pasar pagi hari.
Data perdagangan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah terus berlanjut sepanjang hari, di mana pada pukul 10.15 WIB posisi mata uang berada di level Rp 17.302. Meski berhasil memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan, posisi akhir tetap menunjukkan pelemahan dibandingkan hari sebelumnya sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kondisi pasar uang ini berdampak langsung pada harga jual valuta asing di tingkat perbankan nasional yang mulai menyentuh angka Rp 17.400. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan harga jual dolar AS sebesar Rp 17.450 untuk layanan counter, dengan harga beli dipatok pada posisi Rp 17.150 per tanggal 23 April.
Langkah serupa diambil oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang menetapkan nilai jual dolar AS di angka Rp 17.400 untuk layanan counter. Sementara itu, harga beli yang diterapkan oleh bank pelat merah tersebut berada di level Rp 17.100 pada periode perdagangan yang sama.
Fluktuasi nilai tukar ini terekam dalam rincian harga pasar yang menunjukkan sebaran harga beli terendah pada angka Rp 17.040 dan harga jual tertinggi mencapai Rp 17.340. Penurunan nilai tukar rupiah ini mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang terjadi sepanjang hari perdagangan tersebut.