Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu (28/1/2026) dengan pergerakan positif terhadap dolar Amerika Serikat. Pada pembukaan pasar pagi ini, rupiah tercatat menguat seiring pergerakan sejumlah mata uang Asia lain yang juga berada di zona hijau.
Data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB menunjukkan kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.733 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan penguatan sebesar 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia tercatat terkoreksi 0,08 persen ke posisi 96,13.
Pergerakan dollar hari ini tidak hanya memengaruhi rupiah, tetapi juga berdampak pada mata uang regional lainnya. Penguatan terlihat pada dolar Taiwan yang naik 0,48 persen. Won Korea Selatan menguat 0,36 persen, peso Filipina bertambah 0,35 persen, dan rupee India menguat 0,25 persen. Yuan China juga tercatat naik 0,08 persen, sementara ringgit Malaysia mencatatkan penguatan paling besar di kawasan Asia dengan kenaikan 0,77 persen.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia bergerak searah. Yen Jepang justru mengalami pelemahan dengan koreksi sebesar 0,53 persen. Dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,03 persen. Baht Thailand juga berada di zona merah dengan penurunan 0,05 persen pada perdagangan pagi ini.
Sebelumnya, Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda pertemuan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Pasar memperkirakan otoritas moneter AS akan mempertahankan suku bunga acuannya setelah melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga secara berturut-turut sepanjang tahun lalu.
Selain kebijakan moneter, dinamika politik di Amerika Serikat juga menjadi sorotan pasar. Perselisihan antara Ketua The Fed Jerome Powell dengan Presiden AS Donald Trump dinilai turut membentuk sentimen pelaku pasar global. Kondisi ini membuat investor cenderung mencermati setiap pernyataan dan langkah kebijakan yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan.
Sentimen global juga datang dari kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump. Trump disebut mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan terhadap sejumlah sekutu Amerika Serikat. Ia juga menolak potensi kerja sama perdagangan antara Kanada dan China, serta mengancam akan menerapkan tarif penuh terhadap Kanada.
Tidak hanya itu, pada awal pekan ini Trump menyampaikan rencana untuk mengenakan tarif perdagangan sebesar 25 persen terhadap barang-barang asal Korea Selatan. Kebijakan tersebut dikaitkan dengan penilaian bahwa Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan terbaru. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin sebelumnya dan langsung mendapat perhatian pelaku pasar global.
Menurut Ibrahim, pasar masih bersikap waspada terhadap langkah lanjutan dari Trump, terutama yang berkaitan dengan kebijakan perdagangan internasional. Selain itu, ketegangan geopolitik di kawasan Iran dan Timur Tengah juga menjadi faktor yang membuat pelaku pasar berhati-hati, seiring dengan kedatangan kapal Amerika Serikat ke wilayah tersebut.
Dari dalam negeri, tantangan yang dihadapi pemerintah Indonesia turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pemerintah diperkirakan menghadapi kebutuhan pembiayaan utang yang cukup besar pada 2026. Kebutuhan tersebut mencakup upaya menutup defisit anggaran serta pelunasan pokok utang yang jatuh tempo pada tahun berjalan.
Selain itu, pemerintah juga dinilai menghadapi risiko kekurangan pembiayaan akibat ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global. Situasi tersebut membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati. Ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen pembiayaan utama juga dinilai menghadapi tantangan tersendiri.
Ibrahim menyebutkan bahwa investor asing masih berada dalam posisi menunggu dan mencermati perkembangan kebijakan fiskal Indonesia. Sikap wait and see tersebut tercermin dari kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan yang dinilai kurang konservatif di tengah kondisi global yang belum stabil.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bersifat fluktuatif. Rupiah diproyeksikan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.760 hingga Rp16.790 per dolar AS, seiring meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar.
Sementara itu, pergerakan kurs dolar AS di perbankan nasional menunjukkan variasi harga beli dan jual. Bank Central Asia (BCA) pada Rabu pagi menetapkan kurs dolar AS berdasarkan e-rate dengan harga beli Rp16.725 dan harga jual Rp16.745. Untuk transaksi melalui TT Counter, BCA mematok kurs beli Rp16.545 dan jual Rp16.845. Nilai yang sama juga berlaku untuk transaksi Bank Notes.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI pada pukul 09.22 WIB menetapkan kurs e-rate dolar AS dengan harga beli Rp16.730 dan harga jual Rp16.757. Untuk transaksi TT Counter, BRI membanderol kurs beli Rp16.640 dan jual Rp16.840.
Di Bank Mandiri, kurs special rate dolar AS per pukul 09.09 WIB ditetapkan dengan harga beli Rp16.710 dan harga jual Rp16.740. Sementara itu, untuk transaksi TT Counter pada pukul 09.39 WIB, Bank Mandiri menetapkan kurs beli Rp16.570 dan jual Rp16.870. Adapun kurs Bank Notes tercatat di level beli Rp16.550 dan jual Rp16.850.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga merilis kurs dolar AS pada Rabu pagi. Pada pukul 09.20 WIB, BNI menetapkan kurs special rates dengan harga beli Rp16.734 dan harga jual Rp16.754. Untuk kurs TT Counter dan Bank Notes, BNI mencatat harga beli Rp16.650 dan harga jual Rp16.930 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini menunjukkan respons pasar terhadap kombinasi sentimen global dan domestik. Dinamika kebijakan moneter, geopolitik, serta kondisi fiskal nasional masih menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati arah dollar hari ini 28 Januari 2026.