OMRON Healthcare Indonesia memperluas portofolio solusi terapi nyeri dengan meluncurkan dua perangkat terbaru yang memanfaatkan teknologi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).
Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan solusi praktis bagi masyarakat dalam mengelola nyeri otot dan sendi, seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup aktif. Tomoaki Watanabe, Director OMRON Healthcare Indonesia, menekankan pentingnya pemahaman bahwa pemulihan merupakan bagian integral dari menjaga kesehatan jangka panjang.
Meningkatnya partisipasi dalam aktivitas olahraga seringkali meningkatkan risiko nyeri otot dan cedera, terutama tanpa pemanasan yang memadai atau manajemen pemulihan yang tepat seperti pendinginan.
Dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, seorang spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, menyoroti bahwa nyeri setelah beraktivitas sering kali disebabkan oleh peningkatan intensitas latihan yang tiba-tiba atau teknik gerakan yang kurang benar. Pendekatan non-farmakologis, seperti stimulasi saraf listrik, dapat membantu mengurangi persepsi nyeri dan memfasilitasi relaksasi otot, sehingga mengoptimalkan proses pemulihan.
Dua perangkat yang diperkenalkan adalah Sport TENS HV-F030 dan TENS HV-F230. HV-F030 dirancang khusus untuk pemulihan setelah aktivitas fisik atau olahraga rutin, dilengkapi dengan bantalan otot dan sendi, lima mode terapi, 15 tingkat intensitas, dan sesi terapi otomatis 15 menit.
TENS HV-F230, diproduksi di Jepang, menawarkan kustomisasi terapi yang lebih tinggi hingga 1200 Hz. Perangkat ini ideal untuk pereda nyeri pada lansia dengan nyeri kronis, menawarkan 12 mode terapi utama, 4 mode tambahan, 20 tingkat intensitas, dan Long Life Pads yang dapat dicuci dan digunakan kembali hingga 150 kali.
OMRON juga berkomitmen pada edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan literasi kesehatan dan penggunaan perangkat medis rumahan, termasuk melalui jaringan Experience Center (OEC) di berbagai kota di Indonesia.
Berdasarkan review ilmiah, pemanasan terbukti efektif menurunkan risiko cedera. Gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung bawah yang dialami sekitar 619 juta orang pada tahun 2020, menjadi penyebab utama disabilitas secara global. Hal ini menunjukkan perlunya solusi penanganan nyeri yang efektif.