Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan potensi kendala operasional dalam rencana impor 105 ribu unit pikap asal India untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) pada Rabu (29/4/2026).
Dilansir dari Medcom, pengadaan kendaraan dalam jumlah besar tersebut dinilai berisiko mengalami gangguan teknis jika tidak disertai dengan penyesuaian spesifikasi mesin terhadap kondisi di lapangan.
Kekhawatiran utama muncul karena kendaraan produksi India umumnya telah mengadopsi standar emisi Bharat Stage 6 (BS-VI) yang setara dengan Euro 6.
Yannes menjelaskan bahwa mesin dengan standar Euro 6 memiliki tingkat presisi yang sangat tinggi dan memerlukan bahan bakar berkualitas prima agar tetap berfungsi optimal.
Kondisi ini dianggap bertolak belakang dengan ketersediaan bahan bakar di Indonesia yang saat ini menggunakan program Biodiesel B40.
"Karena setahu saya, mesin India itu memiliki spesifikasi Euro 6 yang sangat presisi dan butuh solar murni, sehingga berpotensi tidak kompatibel dengan Biodiesel B40 Indonesia yang tinggi air dan asam lemak," ujar Yannes Martinus Pasaribu, Pakar Otomotif ITB.
Jika tidak ada modifikasi pada sektor mesin dan penyediaan suku cadang yang memadai, pengadaan ini dikhawatirkan akan memicu lonjakan biaya operasional bagi koperasi di masa mendatang.
Selain faktor bahan bakar, Yannes juga menyoroti aspek purna jual serta jaringan dealer yang harus tersebar merata untuk mendukung distribusi pangan nasional.
Kurangnya dukungan teknis di daerah-daerah terpencil dikhawatirkan dapat melumpuhkan efisiensi pengadaan yang awalnya bertujuan untuk penghematan anggaran belanja modal.
Yannes menyarankan agar pihak terkait melakukan penyesuaian mesin terlebih dahulu agar kompatibel dengan karakteristik solar di dalam negeri sebelum unit didistribusikan secara massal.