Pasangan Suami Istri UGM Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bersamaan

Dua akademisi dari FMIPA UGM, Prof. Edi Winarko dan Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, dikukuhkan bersama sebagai Guru Besar pada 12 April 2026.

Universitas Gadjah Mada (UGM) mengukuhkan sepasang suami istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sebagai Guru Besar secara bersamaan. Momen bersejarah ini terjadi di Balai Senat UGM, menandai pencapaian akademik tertinggi bagi keduanya, seperti dikutip dari Medcom pada Minggu, 12 April 2026.

Kedua akademisi tersebut adalah Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. dan Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D. Edi Winarko diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan, sementara istrinya, Tutik Dwi Wahyuningsih, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia.

Dalam upacara pengukuhan, Prof. Edi Winarko menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang istri. "Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya," kata Edi Winarko.

Prof. Tutik juga memberikan apresiasi serupa kepada suaminya. "Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya," balasnya.

Pengukuhan ini tidak hanya mengakui prestasi akademik mereka, tetapi juga memperkuat kontribusi FMIPA UGM dalam ilmu pengetahuan lintas disiplin. Bidang keilmuan yang mereka tekuni meliputi ilmu kimia hingga kecerdasan buatan, yang relevan untuk masa depan.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan kecerdasan Buatan di Dunia Nyata", Prof. Edi Winarko mengangkat isu krusial dalam evolusi kecerdasan buatan (AI). Ia menyoroti transisi dari paradigma model-centric menuju data-centric AI.

Menurutnya, selama beberapa dekade terakhir, inovasi dalam algoritma dan arsitektur model menjadi pendorong utama kemajuan AI. "Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model," paparnya.

Pendekatan model-centric telah menghasilkan terobosan signifikan seperti Convolutional Neural Network (CNN) dan arsitektur transformer. Namun, Prof. Edi menegaskan bahwa fokus berlebihan pada model menyisakan keterbatasan fundamental. Banyak kegagalan sistem AI justru disebabkan oleh kualitas data yang buruk, bukan kelemahan model itu sendiri.

"Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda," jelasnya.

Ia mengilustrasikan hal ini dengan analogi mobil balap: mesin canggih tidak akan optimal tanpa bahan bakar berkualitas. Prof. Edi juga menyoroti "operational gap," di mana model unggul dalam pengujian sering menurun kinerjanya di dunia nyata akibat pergeseran dan penyimpangan domain data.

Menanggapi tantangan ini, paradigma data-centric AI muncul sebagai solusi, menempatkan data sebagai inti pengembangan sistem AI. "Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel," ujarnya.

Dalam pendekatan ini, data bukan lagi sumber daya statis, melainkan aset yang harus terus ditingkatkan melalui pengumpulan, pelabelan, dan kurasi. "Data merupakan fondasi utama kecerdasan buatan. Melalui pendekatan yang berpusat pada data, sistem AI yang lebih akurat dan dapat dipercaya dapat dibangun," ungkapnya.

Prof. Edi menekankan bahwa masa depan AI bergantung pada kemampuan mengelola data secara sistematis dan berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan sistem yang lebih tangguh dan adaptif.

Pirazolina: Molekul Multifungsi untuk Kesehatan dan Sensor

Sementara itu, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul "Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif". Ia menyoroti potensi besar senyawa pirazolina sebagai platform molekul multifungsi di bidang kesehatan dan teknologi sensor.

Prof. Tutik menggarisbawahi pentingnya sintesis organik sebagai fondasi pengembangan molekul modern. "Sintesis organik merupakan proses pembentukan molekul organik berbasis karbon secara bertahap dan terencana melalui reaksi kimia yang terkontrol," tuturnya.

Menurutnya, bidang ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menuntut kreativitas dalam perancangan molekul, menyerupai arsitektur yang memerlukan pemahaman mendalam tentang interaksi antaratom. Melalui sintesis organik, peneliti dapat memodifikasi struktur molekul untuk meningkatkan aktivitas biologis, selektivitas terhadap sel target seperti sel kanker, dan mengurangi efek toksik pada sel normal. Pendekatan ini krusial untuk pengembangan obat yang lebih efektif dan aman.

Ia memfokuskan penelitiannya pada senyawa heterosiklik pirazolina, yang memiliki struktur cincin beranggota lima dengan kandungan nitrogen. Struktur unik ini memberikan sifat elektronik khas dan berbagai aktivitas farmakologis. "Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan," paparnya.

Prof. Tutik juga menyoroti tantangan pengobatan kanker, terutama resistensi obat dan selektivitas kemoterapi yang rendah. Risetnya menunjukkan bahwa substituen pendonor elektron seperti kloro, metoksi, dan dimetilamino pada pirazolina memiliki aktivitas sitotoksik menjanjikan terhadap sel kanker, membuka peluang untuk pengembangan obat dengan efek samping minimal.

Selain sebagai kandidat obat, pirazolina juga berpotensi sebagai kemofluorosensor berkat sifat fluoresensinya. Sifat ini memungkinkan deteksi zat tertentu secara sensitif dan selektif. "Sifat fluoresensi alami dari pirazolina menjadikannya kandidat yang menarik sebagai fluorofor dalam sistem kemofluorosensor," jelasnya.

Recommended