Pemain Timnas Indonesia, Dean James, tidak masuk dalam daftar skuad Go Ahead Eagles saat klubnya bertanding dalam lanjutan Eredivisie 2025/2026. Kejadian ini terjadi ketika Go Ahead Eagles menghadapi PEC Zwolle pada Minggu (5/4/2026) malam WIB. Absennya James memicu perhatian, terutama setelah Go Ahead Eagles berhasil meraih kemenangan telak 5-0.
Permasalahan yang menimpa Dean James ini berakar dari polemik administrasi paspor dan izin kerja. Situasi ini, yang kemudian dikenal sebagai 'Paspor-gate', juga menyeret nama-nama pemain diaspora Timnas Indonesia lainnya seperti Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, dan Tim Geypens. Kasus ini bermula dari aduan klub NAC Breda.
NAC Breda, yang baru saja mengalami kekalahan 0-6 dari Go Ahead Eagles pada pekan ke-27 Eredivisie (15/3/2026), mengajukan protes terkait keabsahan Dean James. Mereka mempertanyakan status James sebagai pemain Uni Eropa (EU), mengingat ia telah mengubah kewarganegaraannya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada Maret 2025 untuk membela Timnas Indonesia.
Pengaduan ini mengindikasikan bahwa Dean James seharusnya tidak lagi terdaftar sebagai pemain EU di kompetisi Belanda. Akibatnya, NAC Breda bahkan mengajukan permohonan agar pertandingan tersebut dinyatakan tidak sah atau dijadwalkan ulang.
Dampak Regulasi Gaji Pemain Non-EU
Inti dari masalah ini adalah benturan antara status kewarganegaraan baru para pemain dengan regulasi Liga Belanda yang ketat. Menurut pengamat sepak bola Haris Pardede alias Bung Harpa, pemain yang terdaftar sebagai non-EU wajib digaji minimal 600 ribu Euro per tahun, setara dengan sekitar Rp 12 miliar. Jumlah ini sangat memberatkan bagi klub-klub dengan anggaran terbatas seperti Go Ahead Eagles, FC Emmen, atau Fortuna Sittard, seperti dikutip dari Populi.id.
Situasi ini semakin pelik karena Dinas Imigrasi dan Naturalisasi Belanda (IND) telah merilis daftar 25 pemain yang terkendala izin kerja, termasuk para pemain Timnas Indonesia. Jika klub tidak mampu memenuhi standar gaji tersebut atau kuota pemain asing mereka penuh, para pemain ini berpotensi kehilangan tempat di Eropa.
PSSI dan Kekhawatiran Masa Depan Pemain
Bung Harpa mengemukakan kekhawatiran bahwa tanpa solusi yang cepat, pemain diaspora Timnas Indonesia mungkin terpaksa kembali ke liga domestik di Indonesia di usia produktif mereka. Ia menekankan perlunya antisipasi sejak dini agar masalah ini tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar, seperti dilansir dari Populi.id.
Di sisi lain, PSSI melalui Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji, menjelaskan bahwa proses naturalisasi para pemain telah sah secara hukum di Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah murni kendala administrasi di otoritas sepak bola dan imigrasi Belanda. PSSI memastikan tidak ada pelanggaran dalam proses perubahan status kewarganegaraan para pemain yang kini membela Timnas Indonesia, seperti diungkapkan oleh tvOnenews.com.
Dukungan dari Kapten Tim
Absennya Dean James tidak hanya berdampak pada sang pemain, tetapi juga dirasakan oleh klub. Go Ahead Eagles tetap meraih kemenangan telak 5-0 atas PEC Zwolle, menempatkan mereka di posisi ke-11 klasemen Eredivisie dengan 35 poin, cukup aman untuk bertahan di liga. Namun, ketiadaan Dean James dan rekannya, Richonell Margaret (pemain Suriname), sangat disayangkan.
Kapten tim Go Ahead Eagles, Joris Kramer, berharap masalah paspor ini dapat segera diselesaikan. “Sebagai tim, kami tidak punya kendali atas masalah ini. Ini di luar kendali kami dan ini murni masalah menunggu,” kata Kramer kepada VoetbalPrimeur, seperti dilansir dari Bola.net. Kramer juga menambahkan bahwa James dan Margaret adalah pemain berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan tim.
Joris Kramer yakin bahwa permasalahan ini pada akhirnya akan terselesaikan. “Mereka adalah dua pemain yang memiliki kualitas luar biasa. Ini membutuhkan sedikit kesabaran, tetapi saya pikir semuanya akan beres,” tandas Kramer, dikutip dari Bolasport.com. Harapan besar tersemat agar polemik ini tidak menghambat potensi para pemain diaspora Timnas Indonesia di kancah sepak bola Eropa.