Pedagang di pasar tradisional kini menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga plastik yang signifikan, khususnya untuk kantong kemasan dan kresek belanja. Situasi ini langsung memengaruhi modal dagang mereka, yang pada gilirannya menekan pendapatan bersih para pedagang.
Kondisi tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik Finance, sangat dirasakan oleh Asan, seorang pedagang sembako dan plastik di kawasan Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat. Ia mengemukakan bahwa kenaikan harga terjadi pada semua jenis plastik yang ia jual.
Menurut penuturannya, rata-rata harga plastik telah meningkat lebih dari 50%. Hal ini mengakibatkan harga modal menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual sebelumnya. Asan terpaksa menaikkan harga jual sedikit di atas harga modal, namun dengan konsekuensi margin keuntungan yang berkurang.
Asan menjelaskan, "Kalau dulu kresek (kecil) ini kan modalnya paling Rp 10.000-11.000 gitu kan. Kalau sekarang modalnya sudah Rp 15.000-16.000. Nah kalau yang ini (kresek sedang) biasa jual Rp 15.000, sekarang modalnya ini sudah Rp 19.000. Kita jual Rp 20.000, dulu bisa ambil untung Rp 1.500, sekarang Rp 1.000 gitu," pada Kamis (9/4/2026).
Permasalahan lain adalah Asan juga menjual sembako, seperti beras dan tepung eceran, yang seluruhnya memerlukan kantong plastik untuk pengemasan. Namun, untuk produk sembako ini, ia tidak bisa serta-merta menaikkan harga jualnya.
Ia mencontohkan, "Kalau beras kan biasanya memang harus di-double ya, kadang dalamnya (sebagai kemasan beras) minta kresek yang putih ya, luarnya baru yang hitam gitu. Karena yang hitam katanya bau, kalau yang putih kan lebih mahal." Asan menambahkan bahwa untuk tepung eceran, ia harus menggunakan plastik berkualitas baik agar tidak pecah, "Tapi harga kan nggak bisa naik, jadi kita yang kurangin untung. Nggak nambah modal banyak sih, jadi masih bisa nahan harga."
Untuk pelanggan, Asan masih memberikan plastik kresek secara gratis sesuai kebutuhan belanja. Namun, jika ada permintaan tambahan plastik atau kresek yang lebih besar dari yang dibutuhkan, ia mengenakan biaya tambahan sebesar Rp 500.
"Minta kantong, atau kalau misalnya cuma beli minyak yang 1 liter tapi minta kantong yang besar gitu, kadang saya mintain Rp 500. Cuma kadang-kadang nggak mau, nggak jadi minta gitu. Ya jadinya pakai yang sesuai, untuk kemasan seliter atau belanja 2 kg ya yang ini plastiknya," jelas Asan.
Asan mengakui bahwa sebagian besar pembeli tidak mau membayar biaya tambahan tersebut. "Kebanyakan ya yang nggak mau. Tapi sebagian ada yang ngertiin sih, 'nggak usah pakai plastik deh, plastik lagi mahal'. Sebagian ada yang sudah mau bawa tas belanja dari rumah, sebagian. Tapi ya masih sedikit lah," tambahnya.
Selain itu, untuk menghemat penggunaan plastik, Asan kini lebih sering menggabungkan belanjaan pembeli dalam satu kantong plastik kresek. Ini dilakukan sebagai upaya mengurangi pengeluaran karena harga plastik yang mahal. "Ada biasanya kan belanja dibikin dua tentengan, sekarang jadi satu tentengan," paparnya.
Keresahan serupa juga dirasakan oleh Ida, pedagang sayuran di Pasar Gondangdia. Ia mengutarakan bahwa setiap sayuran yang dibeli pelanggan harus dikemas dengan kantong plastik, sehingga kenaikan harga ini menjadi beban tambahan baginya. "Jadi nambah pengeluaran, sekarang sehari nambah Rp 30.000 buat plastik. Kalau kayak gini kan (jualan sayur) untungnya nggak seberapa," ungkap Ida.
Alih-alih membebankan biaya tambahan kepada pembeli, Ida memilih strategi penghematan dengan menggabungkan beberapa jenis sayuran dalam satu kantong. Selain itu, ia juga beralih menggunakan jenis plastik kresek yang lebih murah, meskipun kualitasnya sedikit di bawah standar. Menurutnya, langkah ini tidak menjadi masalah karena plastik tersebut hanya berfungsi sebagai kemasan dalam sebelum sayur dimasukkan ke kantong lain. "Kan kayak tadi beli (cabai) rawit merah sama keriting kita pisah kantongnya, tadi kan kita gabung. Sama ini paling, biasanya pakai yang plastik bening kan, sekarang pakai yang loreng gini yang lebih tipis, lebih murah. Kan cuma buat sayur di dalam," pungkas Ida.