Pemerintah menyelenggarakan Pelatihan Vokasi Nasional dengan fokus utama pada peningkatan hard skills dan soft skills peserta. Program Pelatihan Vokasi Nasional tahun 2026 ini terbagi menjadi tiga gelombang (batch), dengan kuota sekitar 20 ribu peserta per gelombang, sehingga total peserta mencapai sekitar 70 ribu orang.
Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan di 33 Unit Pelaksana Teknis Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (UPT BPVP) serta Satuan Pelayanan (Satpel) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
"Seluruh rangkaian pelatihan disediakan secara gratis oleh Pemerintah. Program ini disusun untuk mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja untuk bekerja atau berwirausaha. Ke depan, diharapkan kuota ini dapat terus ditingkatkan oleh Kemnaker," sebut Airlangga dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/2/2026).
Program ini dirancang untuk memberikan skilling, upskilling, dan reskilling kepada para peserta, dengan mengedepankan prinsip link and match. Prinsip ini memastikan kurikulum pelatihan selaras dengan kebutuhan dunia usaha atau industri.
Tujuan dari pendekatan ini adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi relevan, adaptif, dan sesuai dengan tuntutan pasar kerja (demand driven).
Siswa lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat yang memenuhi persyaratan, seperti berusia minimal 17 tahun, memiliki akun SiapKerja, dan lulus dalam tiga tahun terakhir, dapat mendaftar melalui portal resmi skillhub.kemnaker.go.id.
Peserta program ini akan memperoleh bantuan transportasi Rp 20 ribu per hari (sesuai durasi pelatihan), iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), Sertifikat Pelatihan dan Sertifikat Kompetensi BNSP. Peserta dari luar kota juga dapat difasilitasi asrama pada pelatihan tertentu.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) mencatat, ada 3,28 juta lulusan SMA/SMK pada tahun ajaran 2024/2025. Menurut BPS, lulusan SMA menyumbang 31,05 juta pekerja (20,99% dari total pekerja nasional), sementara lulusan SMK berkontribusi 20,80 juta pekerja (14% dari total pekerja nasional).
Kontribusi lulusan SMA/SMK mencapai sekitar 35% dari total pekerja. Bidang pelatihan yang tersedia meliputi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bisnis dan Manajemen, Pariwisata, Tata Busana, Garmen dan Apparel, Otomotif, Housekeeping, Teknik Kelistrikan, dan Smart Farming.
Bidang lainnya termasuk Konstruksi, Barista, Budidaya Perikanan, Penata Rambut dan Rias Wajah, Memasak, Menjahit Pakaian, Pemeliharaan Kendaraan, Pemandu Wisata, Pemasaran Digital, Keamanan Siber, Instalasi Panel Surya, Pengelasan (Welding), Computer Numerical Control (CNC), Otomasi Industri, Kendaraan Listrik, serta pelatihan prioritas Presiden seperti Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelatihan diselenggarakan secara luring, daring, atau hybrid dengan lebih dari 820 kelas pelatihan yang berfokus pada 31 kejuruan.