Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mendorong pembangunan proyek strategis bioetanol di Provinsi Lampung yang dijadwalkan memulai tahap konstruksi pada kuartal III 2026. Langkah ini bertujuan mempercepat transisi energi dan menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak nasional yang mencapai 61 persen.
Proyek ini melibatkan kolaborasi antara PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Tsusho, dan Danantara Investment Management. Berdasarkan keterangan resmi pada Selasa (21/4/2026), pengembangan tersebut juga didukung oleh konsorsium riset otomotif Jepang bernama RaBIT.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa koordinasi dengan grup perusahaan asal Jepang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir. Dilansir dari Detik Finance, Lampung dipilih sebagai lokasi utama karena ketersediaan bahan baku yang melimpah seperti tebu, ubi, dan sorgum.
"Program ini sebetulnya sudah kita jalankan dari satu tahun yang lalu, tapi memang kami silent dalam pengembangannya. Saat ini sudah ada koordinasi antara PNRE dengan Japanese Group," ujar Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi.
Peta jalan proyek ini terbagi menjadi dua fase utama untuk mencapai target komersial. Tahap awal atau proyek percontohan ditargetkan memiliki kapasitas 60 kiloliter per tahun pada kuartal III 2027, sebelum masuk ke tahap komersial sebesar 60.000 kiloliter per tahun pada kuartal IV 2028.
Pengembangan ini menggunakan teknologi generasi kedua (2G) yang memanfaatkan limbah biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum. Selain pabrik, pemerintah menyiapkan budidaya sorgum seluas 10 hektare pada 2026 yang akan diperluas menjadi 6.000 hektare pada tahun berikutnya.
Inisiatif ini sejalan dengan mandat pemerintah untuk menerapkan pencampuran bioetanol dalam bahan bakar kendaraan. Roadmap yang disiapkan mencakup penerapan E5 pada periode 2026-2027, meningkat ke E10 pada 2028-2030, hingga mencapai E20 di masa depan.
CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, menyatakan pihaknya mengapresiasi kolaborasi dalam ekosistem bioenergi ini. Melalui kemitraan dengan CATL di Indonesia, Toyota juga berencana memperluas kemampuan dari perakitan baterai hingga manufaktur sel baterai untuk mendukung netralitas karbon.