Pemerintah Pertimbangkan Impor Minyak dari Rusia

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah membuka peluang impor minyak dari Rusia, selain Timur Tengah dan Amerika Serikat.

Pemerintah membuka peluang untuk mengimpor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, sebagai alternatif selain negara-negara Timur Tengah dan Amerika Serikat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan hal ini di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Menurut Bahlil, prioritas utama pemerintah adalah ketersediaan pasokan dan harga yang kompetitif. "Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting," ujarnya.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai potensi impor dari Rusia, Bahlil menegaskan bahwa opsi tersebut tetap terbuka. "Ya kenapa tidak? Woh Amerika aja sekarang sudah membuka untuk Rusia kok," kata Bahlil.

Sebelumnya, pemerintah juga menjajaki potensi impor minyak dari Brunei Darussalam. Pembahasan mengenai peluang ini dilakukan antara Bahlil dan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister's Office Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah.

Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3). Bahlil menjelaskan bahwa penjajakan impor minyak bumi dari Brunei adalah opsi strategis untuk memastikan keamanan pasokan energi nasional. "Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," jelas Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026).

Delegasi Brunei juga menunjukkan minat untuk mempelajari transformasi energi di Indonesia, khususnya pengembangan diversifikasi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT). Brunei berencana meningkatkan kapasitas pembangkit listrik nasionalnya hingga lima kali lipat, dengan penambahan 4 gigawatt (GW) dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 1 GW.

Menurut Bahlil, kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi kawasan. "Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi, dimana Brunei memanfaatkan 99% dari gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," ungkap Bahlil.

Recommended