Pemerintah Republik Indonesia menetapkan target penggunaan etanol sebagai campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin sebesar 20 persen atau E20 pada tahun 2028. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan memangkas ketergantungan terhadap impor bensin secara signifikan mulai Minggu (3/5/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa konsumsi bensin nasional saat ini mencapai kisaran 39 hingga 40 juta kiloliter. Dari total kebutuhan tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 50 persen atau 20 juta kiloliter bensin setiap tahunnya.
Dilansir dari Detik Finance, penerapan mandatori E20 diproyeksikan mampu mengurangi volume impor bensin hingga 8 juta kiloliter. Strategi ini memanfaatkan ketersediaan bahan baku nabati yang melimpah di dalam negeri, seperti tebu, jagung, dan singkong, mencontoh kesuksesan yang telah dicapai oleh Brasil.
"Kalau kita mandatori 20%, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, dalam keterangan tertulisnya. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang agar Indonesia berdaulat secara energi.
Keberhasilan serupa sebelumnya telah dicapai pada komoditas solar, di mana pemerintah mengeklaim sudah tidak lagi melakukan impor tahun ini. Hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan biodiesel yang mencampurkan minyak sawit hingga 40 persen (B40) dan direncanakan naik menjadi 50 persen (B50) pada Juli mendatang.
Selain sektor transportasi, pemerintah juga tengah menangani beban subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang mencapai Rp 80 hingga 87 triliun per tahun. Saat ini, produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai seperlima dari total kebutuhan nasional sebesar 7,47 metrik ton per tahun.
Sebagai alternatif LPG, pemerintah mulai mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) yang diklaim memiliki harga 30 hingga 40 persen lebih ekonomis. Teknologi gas tabung ini telah diujicobakan pada sektor kuliner serta program makan bergizi gratis dan akan segera disiapkan untuk konsumsi rumah tangga luas.
Sebagai langkah pengamanan pasokan saat ini, pemerintah juga mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah. Pasokan kini tidak hanya bertumpu pada kawasan Timur Tengah, tetapi telah meluas hingga ke wilayah Afrika, Amerika, dan Rusia.