Astra Agro Lestari Catat Kenaikan Pendapatan 31 Persen Sepanjang 2025

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan pendapatan bersih Rp 28,7 triliun di tahun 2025 meski menghadapi tantangan geopolitik global.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 31 persen menjadi Rp 28,7 triliun sepanjang tahun 2025 di tengah fluktuasi geopolitik global. Capaian ini disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Menara Astra, Jakarta, pada Rabu (15/4/2026).

Kenaikan pendapatan tersebut didorong oleh peningkatan harga jual rata-rata minyak sawit mentah (CPO) perseroan sebesar 11,1 persen. Harga jual tercatat naik dari Rp 12.883 per kilogram menjadi Rp 14.316 per kilogram dalam periode yang sama.

Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, emiten berkode saham AALI ini juga melaporkan pertumbuhan volume produksi CPO sebesar 6 persen secara tahunan (yoy). Total produksi perusahaan mencapai 1,2 juta ton sepanjang tahun lalu.

"Perseroan menghadapi berbagai tantangan struktural dan dinamika ekonomi yang mempengaruhi industri kelapa sawit, di antaranya adalah pergerakan harga minyak nabati naik," ujar Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, dalam penjelasannya.

Djap Tet Fa menambahkan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang asing serta dinamika geopolitik global menjadi tantangan utama yang dihadapi industri. Namun, krisis energi global justru menjadi katalis positif karena mendorong adopsi energi bersih dari minyak nabati.

Data operasional perusahaan menunjukkan produksi kernel tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi 252 ribu ton. Sementara itu, volume penjualan CPO beserta produk turunannya melonjak 13 persen hingga menyentuh angka 1,8 juta ton.

Tren harga CPO di pasar internasional turut memberikan dampak signifikan pada performa keuangan perusahaan. Harga CPO CIF Rotterdam terpantau naik menjadi US$ 1.222 per ton pada 2025, dibandingkan posisi US$ 1.084 per ton pada tahun 2024.

Peningkatan permintaan global dan penerapan kebijakan mandatori biodiesel di pasar domestik disebut menjadi faktor pendukung kenaikan harga. Pergerakan harga minyak nabati dunia ini secara langsung mengompensasi tantangan operasional yang dihadapi perseroan sepanjang tahun berjalan.

Recommended