Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran memicu kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok global. Dua koridor maritim utama dunia, yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, berpotensi ditutup akibat situasi ini.
Perusahaan pelayaran kontainer raksasa telah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan menangguhkan operasi melalui Selat Hormuz. Hal ini dilakukan menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu, yang meningkatkan risiko keamanan di jalur perairan tersebut. Kapal-kapal kini dialihkan rutenya di sekitar ujung selatan Afrika.
Maersk, salah satu perusahaan pelayaran terkemuka, mengumumkan penangguhan semua pelayaran kapal di Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. "Maersk juga memperingatkan semua layanan yang singgah di pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia akan tertunda," dikutip dari CNBC, Selasa (3/3/2026).
Terletak di antara Oman dan Iran, Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak bumi terpenting di dunia. Pada tahun 2023, rata-rata 20,9 juta barel minyak melewati jalur air ini setiap hari. Badan Informasi Energi AS memperkirakan jumlah ini menyumbang sekitar 20% dari konsumsi minyak bumi global.
Sementara itu, Selat Bab el-Mandeb, yang terletak di antara Tanduk Afrika dan Timur Tengah, menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jalur ini diperkirakan menyumbang 12% perdagangan minyak melalui laut dan 8% perdagangan gas alam cair (LNG) pada paruh pertama tahun 2023.
Kepala Analis Xeneta, Peter Sand, memprediksi potensi kenaikan tarif pengiriman kontainer untuk wilayah Timur Tengah akibat konflik ini. "Setidaknya selama konflik masih berlangsung," ujarnya. Sand menambahkan bahwa saat ini tidak ada jalur alternatif yang dapat diandalkan untuk pengiriman barang melalui laut.
Blokade sementara kapal tanker minyak dari Selat Hormuz berpotensi meningkatkan harga energi global, menaikkan biaya pengiriman, dan menciptakan kelangkaan pasokan. Selat Hormuz juga memegang peranan penting dalam perdagangan kontainer global. Pelabuhan-pelabuhan di wilayah ini, seperti Jebel Ali dan Khor Fakkan, adalah pusat pengiriman yang berfungsi sebagai titik perantara dalam jaringan global.
Perusahaan pelayaran kontainer Jerman, Hapag-Lloyd, menangguhkan semua kapal yang melintas melalui Selat Hormuz demi keselamatan dan keamanan awak kapal. CMA CGM Prancis menginstruksikan semua kapalnya di Timur Tengah dan yang menuju ke wilayah tersebut untuk berlindung, serta menangguhkan pelayaran melalui Terusan Suez. Kapal akan dialihkan rutenya melalui Tanjung Harapan di sekitar Afrika.
MSC, perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia, juga telah memerintahkan semua kapal yang beroperasi di wilayah Timur Tengah untuk menuju ke area aman yang telah ditentukan, dan akan terus memantau perkembangan lebih lanjut.