Pakar IPB Sebut Perdagangan Satwa Liar Picu Risiko Pandemi Zoonosis

Perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia meningkatkan risiko penularan zoonosis dan potensi pandemi baru akibat perpindahan patogen dari hewan ke manusia.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, memperingatkan adanya peningkatan risiko penularan zoonosis akibat maraknya perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia pada Kamis, 16 April 2026. Aktivitas kriminal tersebut dinilai berpotensi memicu munculnya wabah penyakit baru yang menular dari hewan ke manusia.

Data empiris menunjukkan bahwa Indonesia saat ini masih terjerat dalam jaringan perdagangan satwa liar ilegal global karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai pangsa pasar yang menguntungkan sekaligus rentan terhadap persebaran patogen berbahaya.

Dilansir dari Medcom, penelitian Universitas Fribourg mengungkapkan bahwa mamalia yang diperdagangkan secara global memiliki risiko 1,5 kali lebih besar menjadi inang zoonosis. Beberapa patogen yang kerap ditemukan pada satwa tersebut antara lain virus corona, influenza, rabies, hingga berbagai jenis parasit.

Pelepasan virus atau bakteri dipicu oleh penurunan sistem imun satwa yang mengalami stres selama proses penangkapan. Penempatan hewan dalam kandang sempit yang bercampur dengan spesies lain saat pengangkutan juga memperbesar peluang pertukaran patogen antarspesies sebelum sampai ke tangan konsumen.

Jalur penularan ke manusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah, daging, atau cairan tubuh hewan saat proses penjualan maupun konsumsi. Satwa liar yang dijadikan hewan peliharaan pun tetap membawa risiko bagi lingkungan rumah tangga karena potensi patogen yang melekat pada tubuh mereka.

"Biodiversitas merupakan inti dari kesehatan manusia. Keanekaragaman genetik, spesies, dan ekosistem adalah dasar utama untuk keberlangsungan hidup manusia," ujar Prof Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi IPB University.

Sejumlah kasus besar seperti SARS, MERS, dan COVID-19 secara global telah membuktikan adanya keterkaitan erat antara interaksi manusia dengan satwa liar terhadap munculnya wabah. Penggunaan media sosial dalam perdagangan ilegal semakin memperluas jangkauan distribusi tanpa adanya pengawasan kesehatan yang memadai.

Penurunan populasi satwa liar akibat perburuan juga memaksa patogen berpindah ke manusia ketika habitat alami mulai rusak. Penanganan dampak pandemi di masa depan diprediksi akan memakan biaya yang sangat besar jika praktik perdagangan ilegal ini tidak segera dihentikan.

Recommended