Persebaya Surabaya akan menjalani periode krusial dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Bulan April mendatang diprediksi menjadi fase menantang bagi skuad berjuluk Bajul Ijo tersebut.
Mereka dijadwalkan melakoni lima pertandingan dalam kurun waktu 25 hari, atau rata-rata bertanding setiap lima hari sekali. Situasi ini tidak hanya membebani dari sisi jadwal, namun juga menyoroti masalah kedalaman skuad tim, demikian dikutip dari Bola.
Arsitek tim Persebaya, Bernardo Tavares, mengakui bahwa tingkat kebugaran para pemainnya masih di bawah ekspektasi. Beberapa pilar utama masih dalam tahap pemulihan cedera, sementara pemain lainnya baru memulai latihan ringan.
Sebelumnya, dalam pertandingan melawan Borneo FC pada 7 Maret 2026, Persebaya harus menurunkan pemain yang belum mencapai kondisi fisik optimal. Akibatnya, strategi permainan di lapangan tidak berjalan efektif, bahkan berujung pada kekalahan telak 1-5.
Kondisi krisis pemain ini ditanggapi serius oleh jajaran pelatih. Mereka berkoordinasi dengan unit medis klub untuk mempercepat pemulihan pemain, agar dapat segera kembali merumput dan berkontribusi secara maksimal.
Bernardo Tavares menjelaskan upaya tersebut. "Kami bekerja sama dengan departemen medis untuk memperbaiki kondisi ini. Tidak masuk akal jika klub membayar pemain tetapi mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam pemulihan daripada latihan," ungkap Tavares.
Selain masalah fisik, kalender pertandingan yang padat selama April semakin memperparah situasi tim. Dalam periode kurang dari sebulan, Persebaya akan menghadapi lima laga penting melawan lawan-lawan tangguh.
Jadwal Padat dan Tantangan Skuad Tipis
Persebaya akan bertemu Persita Tangerang, Persija Jakarta, Madura United FC, Malut United FC, serta duel panas bertajuk Derbi Jat melawan Arema FC secara beruntun.
Menurut pelatih asal Portugal itu, kombinasi antara jadwal padat dan keterbatasan jumlah pemain menjadi kendala paling kompleks saat ini. "Ini menjadi masalah bagi kami karena skuad tidak terlalu dalam dan banyak pemain yang cedera. Itu adalah tantangan utama," ujar mantan pelatih PSM Makassar tersebut.
Dalam menghadapi kondisi sulit ini, Persebaya dituntut untuk cermat dalam mengatur program latihan. Mereka harus menjaga intensitas latihan agar tetap kompetitif, namun juga waspada agar tidak ada lagi pemain yang mengalami cedera.
Staf pelatih kini merancang berbagai metode rehabilitasi sebagai langkah pencegahan. "Kami melakukan banyak program pemulihan untuk mencegah cedera tambahan. Kami ingin menjaga intensitas dan agresivitas dalam latihan, karena itu yang dibutuhkan dalam pertandingan," tambah Tavares.
Ia berharap badai cedera yang menimpa tim segera berakhir, sehingga tim memiliki lebih banyak pilihan taktik saat menyusun strategi pertandingan. Hingga saat ini, klub kebanggaan Bonek tersebut berada di peringkat ketujuh klasemen sementara BRI Super League 2025/2026, dengan raihan 39 poin dari 25 pertandingan.