Persija Risih dengan Sindiran APBD FC dari Netizen

Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, merasa terganggu dengan sindiran APBD FC yang dilontarkan netizen terkait sponsor dari BUMD DKI.

Direktur Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, mengungkapkan ketidaknyamanannya atas julukan "APBD FC" yang disematkan netizen kepada timnya. Sindiran ini muncul karena Persija mendapatkan dukungan sponsor dari empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta di BRI Super League 2025/2026.

Keempat BUMD tersebut adalah Bank Jakarta, MRT Jakarta, TransJakarta, dan PAM Jaya. Prapanca merasa julukan tersebut tidak adil dan mengganggu. Ia menduga komentar negatif itu berasal dari buzzer, suporter Persija yang kurang informasi, atau bahkan provokator.

"Agak risih juga dengarnya. Dan saya tidak tahu itu buzzer atau memang itu suporter Persija, atau provokator begitu," ujar Prapanca dalam Ngopi Bareng Persija di Kantor Persija, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/3/2026).

Menurut Prapanca, mudahnya masyarakat berkomentar di media sosial menjadi salah satu penyebab munculnya julukan tersebut. Ia menyayangkan kurangnya filterisasi digital yang membuat semua orang bebas berpendapat tanpa dasar yang jelas.

Prapanca menjelaskan bahwa dukungan dari BUMD DKI Jakarta merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Hal ini sejalan dengan visi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk menjadikan "Jakarta lebih Persija".

Pramono Anung ingin mewujudkan sinergi profesional antara pemerintah daerah dan klub sepak bola kebanggaan ibu kota. Menurut Prapanca, dukungan ini bukan sekadar pemberian dana cuma-cuma, melainkan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan.

Gubernur DKI Jakarta mengundang Prapanca untuk berdiskusi mengenai potensi kolaborasi antara Persija dan Pemprov DKI Jakarta. Hasilnya, disepakati bahwa beberapa BUMD akan memberikan dukungan kepada Persija, seperti Bank Jakarta, PAM Jaya, MRT, dan TransJakarta.

Sosialisasi Program Layanan Publik

Prapanca menjelaskan bahwa kerja sama ini juga berfungsi sebagai platform sosialisasi yang efektif bagi program-program layanan publik. Contohnya, PAM Jaya memanfaatkan basis massa Persija untuk memperkenalkan program-programnya kepada masyarakat Jakarta. Hal ini bertujuan agar masyarakat lebih memahami program PAM Jaya dan dampaknya bagi kehidupan mereka.

"Jadi perlu sosialisasi program-program PAM, di mana kanal yang bisa sering dilihat oleh masyarakat. Nah, dipilihlah Persija sebagai tempat media sosial untuk mensosialisasikan program-program PAM. Satu di antaranya begitu. Itu PAM," ungkap Prapanca.

Prapanca menambahkan bahwa kerja sama ini juga diawasi secara ketat oleh lembaga audit resmi untuk menjamin transparansi anggaran.

Rebranding Bank DKI menjadi Bank Jakarta

Prapanca mengungkapkan bahwa penggunaan Persija sebagai mitra utama dalam proses rebranding Bank DKI menjadi Bank Jakarta merupakan strategi pemasaran yang cerdas dan efisien. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan eksposur merek Bank Jakarta secara nasional dan mempercepat target melantai di bursa saham.

Dengan menggandeng Persija, Bank Jakarta berharap dapat meningkatkan awareness dan popularitasnya di kalangan masyarakat Jakarta dan Indonesia.

Promosi Fasilitas Publik Melalui Persija

Prapanca juga menjelaskan bahwa Persija turut mempromosikan fasilitas publik seperti MRT dan TransJakarta melalui konten-konten di media sosial. Hal ini merupakan solusi promosi yang lebih ekonomis dibandingkan menggunakan jasa konsultan eksternal.

Dengan memanfaatkan aset digital dan jangkauan media sosial Persija, MRT dan TransJakarta dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kenyamanan dan manfaat fasilitas tersebut.

Jakarta Sebagai Global City

Prapanca juga menyampaikan bahwa Gubernur DKI Jakarta memiliki visi untuk menjadikan Jakarta sebagai global city melalui sepak bola. Ia berharap suporter Persija dapat mendukung visi ini dengan menjaga rivalitas tetap sehat di dalam lapangan saja, tanpa terpengaruh provokasi netizen.

Rivalitas yang sehat akan menciptakan ekosistem yang positif dan meningkatkan nilai komersial Persija. Sebaliknya, provokasi dan tindakan anarkis hanya akan merugikan klub dan merusak citra sepak bola Jakarta.

Visi Sports Entertainment

Manajemen Persija saat ini fokus mengintegrasikan aspek operasional dengan kemitraan strategis demi membangun visi jangka panjang sports entertainment yang mandiri dan berdaya saing. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri sepak bola nasional.

Prapanca menegaskan bahwa Persija ingin menjadi bagian dari industri sports entertainment yang berkembang pesat. Untuk itu, Persija terus berinovasi dan meningkatkan kualitas di berbagai aspek, mulai dari pemain, manajemen, hingga infrastruktur.

Prapanca menekankan bahwa model kemitraan profesional dengan BUMD ini bersifat akuntabel dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia berharap model ini dapat menjadi inspirasi bagi klub lain untuk berkolaborasi dengan pemerintah provinsi masing-masing demi kemajuan bersama tanpa melanggar regulasi.

Recommended