PT Pertamina (Persero) mengadakan pertemuan strategis dengan U.S. Department of Energy (DOE) di Washington D.C. pada Senin (11/5/2026) guna memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk memperluas kolaborasi perdagangan energi dan teknologi antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Diskusi yang berlangsung di ibu kota Amerika Serikat tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari penguatan keamanan pasokan energi hingga pengembangan teknologi minyak dan gas (migas). Pertamina berfokus pada penjajakan peluang kolaborasi pengembangan migas non-konvensional serta peningkatan kapasitas sektor energi domestik.
Dilansir dari Detik Finance, Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Pertamina, terutama untuk komoditas LPG. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen impor LPG Indonesia pada tahun 2025 berasal dari Negeri Paman Sam tersebut dengan volume melampaui 5 juta MT.
"Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik, sehingga membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan," ujar Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Oki menambahkan bahwa Pertamina terus memperkuat kemitraan untuk mendukung keamanan pasokan dan peningkatan kapasitas teknologi energi nasional. Untuk menjamin stabilitas harga di dalam negeri, perusahaan mendorong kontrak jangka panjang (LTC) dengan para eksportir energi asal Amerika Serikat.
Selain sektor LPG, Pertamina tengah menjajaki potensi impor minyak mentah jenis light sweet crude, seperti WTI, untuk diolah di kilang nasional. Rencana ini sejalan dengan program Refinery Development Master Plan (RDMP) yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan efisiensi pengolahan kilang minyak di Indonesia.
Kolaborasi ini juga menyentuh aspek teknis melalui pertukaran pengetahuan terkait Strategic Petroleum Reserve (SPR) serta pengembangan infrastruktur penyimpanan energi. Kerja sama teknologi lainnya mencakup optimalisasi reservoir, digital oilfield, hingga teknologi pengeboran tingkat lanjut untuk mendukung produksi migas konvensional nasional.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita menegaskan bahwa hubungan ini memberikan nilai tambah bagi kemandirian energi. Pertemuan tersebut turut dihadiri pejabat DOE seperti Elizabeth Urbanas dan Aleshia Duncan guna membahas investasi hulu dan transfer teknologi pengeboran serta penyelesaian sumur.