Sektor industri pengolahan Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,3 persen pada tahun 2025, sebuah pencapaian yang secara resmi melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,1 persen. Fenomena ini menandai momen krusial karena sektor manufaktur kembali menjadi motor penggerak utama ekonomi setelah terakhir kali melampaui angka nasional pada 2011 silam.
Kenaikan signifikan dalam industri manufaktur ini dilansir dari Medcom sebagai bentuk resiliensi struktural ekonomi Indonesia. Selain pertumbuhan angka, kualitas ekonomi nasional kini ditopang oleh sektor pengolahan yang menyumbang 85 persen dari total nilai ekspor nasional pada periode 2025.
Struktur ekonomi Indonesia dilaporkan telah bergeser dari ketergantungan pada bahan mentah menuju produk olahan dengan nilai tambah tinggi. Transformasi ini memperkuat posisi Indonesia di pasar global melalui pengiriman barang manufaktur yang mendominasi komposisi perdagangan luar negeri.
Kementerian Perindustrian kini menetapkan target ambisius berupa capaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2050 di sektor manufaktur. Target ini ditetapkan sepuluh tahun lebih awal dibandingkan komitmen dekarbonisasi nasional yang dipatok pada tahun 2060.
"Komitmen kami di sektor industri sangat jelas: mencapai Net Zero Emission pada tahun 2050. Langkah dekarbonisasi ini adalah respon strategis terhadap permintaan pasar global yang kini lebih menghargai green product," kata Emmy Suryandari, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian.
Strategi dekarbonisasi tersebut dijalankan melalui optimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT), salah satunya dengan pemasangan PLTS Atap di lingkungan industri. Penguatan industri modul surya lokal juga menjadi prioritas untuk mendukung transisi energi hijau secara mandiri.
Data pemerintah menunjukkan saat ini terdapat 34 pabrikan modul surya di dalam negeri dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 10.944 MWp. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk perangkat modul surya tersebut telah menyentuh angka 40 persen hingga 55 persen.
Pemerintah juga fokus pada penyediaan skema pembiayaan dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang industri hijau. Upaya holistik ini dilakukan agar produk manufaktur Indonesia tetap kompetitif di tengah meningkatnya permintaan global terhadap proses produksi ramah lingkungan.