Pola Konsumsi Tinggi Saat Lebaran Pengaruhi Ekonomi

Pola konsumsi tinggi saat Lebaran telah menjadi tradisi lama dan memengaruhi ekonomi Indonesia. Peningkatan permintaan memicu inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Belanja besar-besaran menjadi ciri khas Lebaran, mulai dari membeli baju baru, menyiapkan hidangan, hingga berbagi uang kepada keluarga. Kebiasaan ini sering dianggap sebagai "ritual tahunan" yang wajar.

Namun, konsumsi tinggi saat Lebaran bukanlah fenomena baru.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tekanan inflasi cenderung meningkat menjelang Ramadan hingga Idulfitri. Rilis inflasi bulanan BPS mencatat komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, serta tarif angkutan udara dan darat hampir selalu menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut. Lonjakan ini mencerminkan peningkatan permintaan masyarakat secara luas.

Dalam sejarah, fenomena konsumsi tinggi saat hari raya juga bukan hal baru. Kajian sosial dan ekonomi, termasuk penelitian sejarah masyarakat Jawa oleh Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960), mencatat bahwa perayaan keagamaan sejak lama menjadi momen penting untuk menunjukkan status sosial melalui pakaian baru dan jamuan makanan. Tradisi ini berlanjut dan beradaptasi hingga sekarang.

Dari sisi moneter, peningkatan aktivitas ekonomi saat Lebaran tercermin dari jumlah uang beredar. Data Uang Beredar (M2) dari Bank Indonesia menunjukkan peningkatan likuiditas di masyarakat menjelang hari besar keagamaan, seiring meningkatnya transaksi konsumsi.

Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu pendorong utama lonjakan konsumsi. Kebijakan ini telah ada sejak era awal kemerdekaan dan kini diatur dalam regulasi ketenagakerjaan. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan mewajibkan pekerja menerima THR menjelang hari raya, meningkatkan daya beli dalam waktu singkat. Kementerian Ketenagakerjaan rutin menegaskan kewajiban pembayaran THR setiap tahun, faktor utama meningkatnya konsumsi rumah tangga saat Lebaran.

Di sisi lain, perilaku konsumtif ini juga dipengaruhi faktor sosial. Studi perilaku konsumen menunjukkan adanya dorongan sosial seperti gengsi, norma, dan tekanan lingkungan yang membuat pengeluaran saat Lebaran cenderung meningkat. Dalam kajian ekonomi perilaku, fenomena ini dikaitkan dengan demonstration effect, yakni kecenderungan menyesuaikan gaya hidup dengan lingkungan sekitar.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang mengalami tekanan keuangan setelah Lebaran.

Meski begitu, dari sisi ekonomi makro, lonjakan konsumsi ini menjadi motor penggerak ekonomi. Data BPS menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB nasional. Peningkatan belanja masyarakat saat Lebaran memberi dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan kata lain, tradisi "boros" saat Lebaran bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari siklus ekonomi yang sudah berlangsung lama. Dari masa ke masa, pola ini terus berulang, didukung oleh kemudahan akses belanja, promosi masif, hingga platform digital. Lebaran pun bukan hanya soal perayaan, tapi juga momen ketika perputaran uang di masyarakat mencapai puncaknya.

Recommended