Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan adanya lonjakan populasi ayam petelur hingga mencapai 30 persen pada Selasa (12/5/2026) akibat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh tingginya antusiasme peternak lokal dalam membangun fasilitas kandang baru di berbagai wilayah.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa kehadiran Sentra Pelayanan Pertanian Generasi Baru (SPPG) turut mendorong minat investasi di sektor ini. Data tahunan menunjukkan peningkatan populasi hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, penyerapan bibit ayam petelur (DOC Layer) saat ini hampir menyentuh angka 100 persen. Sebelumnya, utilisasi bibit tersebut terpantau hanya berada pada kisaran 60 hingga 70 persen sebelum adanya lonjakan permintaan pasar.
"Tahun 2025 itu harga telur cukup bagus dan memang karena atensi dan minat dari para pelaku untuk membangun peternakan ayam ini semakin tinggi karena ada MBG. Sehingga populasi ayam petelur kita tahun 2026 ini peningkatannya cukup signifikan," ujar Agung Suganda, Direktur Jenderal PKH Kementan.
Faktor lain yang memengaruhi ledakan populasi ini adalah perbaikan kualitas genetik yang membuat ayam memiliki masa produksi lebih lama. Sejumlah peternak memperpanjang masa afkir ayam hingga 100 minggu karena tingginya permintaan pasar yang harus dipenuhi secara konsisten.
Pemerintah kini menyoroti potensi risiko melimpahnya stok telur terhadap stabilitas harga di tingkat produsen. Kementan mengkhawatirkan penurunan harga yang drastis dapat mengancam keuntungan para peternak rakyat meskipun harga di tingkat konsumen terpantau masih relatif stabil.
Kementerian Pertanian menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketersediaan protein nasional dan perlindungan ekonomi bagi peternak lokal. Evaluasi terhadap distribusi dan serapan pasar terus dilakukan guna mencegah kerugian pada sektor peternakan rakyat di tengah tren kenaikan produksi ini.