Konflik yang memanas di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dan gas (migas) dunia. Beberapa negara besar yang bergantung pada kawasan ini sebagai sumber energi utama menghadapi potensi masalah.
Ancaman terhadap pasokan migas meningkat seiring dengan potensi meluasnya konflik, terutama setelah serangan Israel dan AS terhadap Iran dapat menyebabkan gangguan berkepanjangan. Negara-negara seperti India, China, Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan bahkan Amerika Serikat akan merasakan dampaknya.
India: Impor minyak India dari Timur Tengah mencapai 55% pada Januari 2026, tertinggi sejak akhir 2022, atau sekitar 2,74 juta barel per hari. Hal ini terjadi karena India mengurangi impor minyak dari Rusia.
Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri menyatakan India memiliki kapasitas untuk memenuhi permintaan selama sekitar 74 hari melalui persediaan minyak mentah dan bahan bakar olahan, termasuk cadangan strategis. Namun, sumber anonim dari sektor penyulingan minyak mengatakan persediaan India saat ini hanya cukup untuk 20-25 hari. India juga merupakan importir LNG terbesar keempat, dengan dua pertiga pasokannya berasal dari Qatar, UEA, dan Oman.
China: Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, China juga merupakan pembeli minyak Iran terbesar. Sekitar setengah dari impor minyak China berasal dari Timur Tengah. China juga mengimpor sepertiga gas alam cairnya dari wilayah tersebut.
Tahun lalu, China membeli rata-rata 1,38 juta barel minyak dari Iran per hari, sekitar 13% dari total impornya. Pada akhir Januari 2026, 42 juta barel minyak mentah Iran lainnya disimpan di kapal tanker di Asia. China diperkirakan memiliki cadangan sekitar 900 juta barel, atau kurang dari tiga bulan impor.
Jepang: Jepang mengimpor 95% minyaknya dari Timur Tengah, dengan sekitar 70% melewati Selat Hormuz. Pada Januari, negara itu mengimpor 2,8 juta barel minyak per hari. Sekitar 1,6 juta barel per hari berasal dari Arab Saudi, sisanya dari Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Cadangan minyak darurat Jepang setara dengan konsumsi selama 254 hari.
Jepang juga merupakan importir gas alam cair terbesar kedua, dengan 40% pasokannya dari Australia, atau 25,8 juta metrik ton tahun lalu. Pasokan LNG Jepang dari Timur Tengah (Qatar, Oman, dan UEA) mencapai sekitar 11% dari impornya. Perusahaan-perusahaan Jepang memiliki persediaan LNG yang setara dengan sekitar tiga minggu konsumsi.
Korea Selatan: Korea Selatan, yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, membeli sekitar 70% minyak dan 20% LNG dari Timur Tengah. Total cadangan minyak strategis pemerintah negara itu telah mencapai 100 juta barel, ditambah 95 juta barel dari sektor swasta. Pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan cadangan gabungan negara itu cukup untuk menutupi sekitar 208 hari konsumsi. Otoritas Korea Selatan berupaya mengamankan volume tambahan dari luar Timur Tengah jika gangguan pasokan berlanjut.
Eropa: Pasokan Timur Tengah menyumbang sekitar 5% dari impor minyak mentah Eropa. Namun, Eropa lebih bergantung pada Timur Tengah untuk bahan bakar, terutama produk distilat menengah, termasuk diesel dan bahan bakar jet.
Amerika Serikat: Amerika Serikat telah mengurangi ketergantungannya pada minyak dari Timur Tengah. Tahun lalu, AS membeli kurang dari 0,9 juta barel per hari dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. AS melarang pembelian minyak dari Iran setelah krisis sandera tahun 1979. AS, eksportir LNG terbesar di dunia, hampir tidak mengimpor gas alam cair dari Timur Tengah.