Pelatih kiper asal Korea Selatan, Yoo Jae-hoon, berhasil menekan angka kebobolan Persijap Jepara secara signifikan sejak bergabung pada akhir Februari 2026 di putaran kedua kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Kehadiran mantan asisten Shin Tae-yong tersebut membawa perubahan besar pada lini pertahanan Laskar Kalinyamat melalui penerapan standar kepelatihan internasional.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bola, gawang Persijap yang dikawal bergantian oleh Sendri Johansyah dan Muhammad Ardiansyah mencatatkan lima kali nirbobol atau cleansheet dari tujuh pertandingan terakhir. Dalam periode tersebut, tim hanya kemasukan tiga gol, sebuah peningkatan drastis dibandingkan performa tim pada paruh pertama musim.
Pencapaian ini menjadi catatan istimewa bagi klub asal Jepara tersebut karena sebelumnya mereka sangat sulit menjaga kesucian gawang. Sepanjang 22 pertandingan awal di musim 2025/2026, Persijap tercatat hanya mampu meraih tiga kali cleansheet sebelum akhirnya Yoo Jae-hoon datang membawa perubahan pada sektor penjaga gawang.
Yoo mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari adopsi program yang pernah ia jalankan saat membantu Tim Nasional Indonesia. Ia berkolaborasi dengan pelatih kiper lokal, Iman Suherman, untuk merancang sesi latihan yang lebih detail, mulai dari manajemen beban kerja hingga evaluasi performa yang mendalam.
"Saya menyiapkan program latihan mingguan seperti saat saya berada di Timnas Indonesia. Selain itu, intensitas latihan juga sudah saya tentukan sebelumnya," ujar Yoo Jae-hoon, pelatih kiper Persijap Jepara. Program tersebut dirancang agar para pemain memiliki kesiapan fisik dan teknis yang matang di setiap laga.
Selain aspek fisik, Yoo juga menekankan pentingnya kestabilan mental bagi para pemain di bawah mistar gawang. Evaluasi pasca-latihan dilakukan secara aktif melalui diskusi dua arah dan analisis rekaman video pertandingan guna mengidentifikasi kekurangan individu pemain secara objektif.
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap penjaga gawang Persijap memiliki fokus tinggi selama 90 menit pertandingan. Stabilitas mental dinilai Yoo sebagai faktor krusial yang memungkinkan anak asuhnya menunjukkan performa terbaik meski berada di bawah tekanan serangan lawan dalam kompetisi yang kompetitif.