Presiden UEFA Bela Gravina Usai Italia Gagal Lolos Piala Dunia

Aleksander Ceferin, Presiden UEFA, membela Gabriele Gravina yang mengundurkan diri sebagai Presiden FIGC setelah kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia tiga kali beruntun.

Pengunduran diri Gabriele Gravina dari jabatan Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memicu berbagai respons. Salah satunya datang dari Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. Seperti dilansir dari Bola, Ceferin memberikan dukungan penuh kepada Gravina, yang juga menjabat wakil presiden UEFA.

Menurut Ceferin, kegagalan Italia untuk lolos ke Piala Dunia sebanyak tiga kali berturut-turut bukanlah sepenuhnya kesalahan federasi. Italia kembali harus absen dari turnamen akbar tersebut setelah takluk dalam adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina pada final play-off, Rabu dini hari WIB lalu.

Kekalahan ini menandai kegagalan ketiga beruntun di fase yang sama. Sebelumnya, Gli Azzurri juga tersingkir pada babak play-off edisi 2018 dan 2022. Ceferin, yang menyaksikan langsung pertandingan di Stadion di Zenica bersama Gravina, mengaku tidak sepenuhnya terkejut dengan hasil tersebut.

"Di satu sisi iya, tapi di sisi lain Bosnia punya tim muda dan kuat yang bermain di kandang sendiri," ujar Ceferin dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport. Ia menambahkan bahwa tekanan yang jauh lebih besar ada pada tim Italia.

"Bosnia pantas lolos ke Piala Dunia, sementara Italia kalah setelah bermain dengan satu pemain lebih sedikit," imbuhnya, merujuk pada jalannya pertandingan yang berlangsung sengit.

Ceferin juga menanggapi desakan publik yang menginginkan Gravina mundur dari jabatannya. Menurutnya, situasi semacam ini adalah hal yang biasa dalam dunia sepak bola. "Saat saya menjadi Presiden Federasi Slovenia, saya selalu mengatakan kepada pelatih: 'Kalau menang, Anda dan para pemain akan jadi pahlawan. Kalau kalah, kita berdua yang disalahkan,'" kenangnya.

Namun, Ceferin menegaskan bahwa Gravina tidak pantas dijadikan kambing hitam atas kegagalan ini. "Ini sama sekali bukan tanggung jawab Gabriele. Saya juga tidak akan menyalahkan pemain atau pelatih," cetus Ceferin.

Ia justru mengarahkan kritik kepada para politisi Italia. "Mungkin justru para politisi Italia yang harus bertanya, mengapa Italia memiliki salah satu infrastruktur sepak bola terburuk di Eropa," ujarnya, menyoroti masalah struktural yang lebih mendalam.

Sorotan Terhadap Infrastruktur Sepak Bola Italia

Ceferin tidak hanya mengkritik politisi, tetapi juga menyinggung pihak-pihak yang dinilai menunggu kegagalan untuk kemudian melontarkan kritik. "Saya marah dan sedih melihat ada orang-orang yang bersembunyi, menunggu sesuatu berjalan buruk, lalu muncul untuk mengkritik. Mereka tidak mendukung Italia, mereka hanya mendukung diri sendiri," kata Ceferin.

Menurutnya, sepak bola memang seperti ini; bahkan tim dengan pemain terbaik sekalipun bisa mengalami kekalahan. Ceferin juga menegaskan betapa pentingnya peran Gravina dalam struktur UEFA. "Gabriele adalah wakil presiden pertama saya dan sangat penting bagi saya. Tapi, kehilangan terbesar justru untuk federasi Italia," tambahnya.

Pria asal Slovenia itu menilai bahwa tidak mudah untuk menemukan sosok yang memiliki dedikasi dan kecintaan terhadap sepak bola Italia seperti Gravina. Isu infrastruktur sepak bola di Italia kembali menjadi sorotan Ceferin, yang menurutnya masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Ini menjadi perhatian serius menjelang Euro 2032, yang akan diselenggarakan bersama oleh Italia dan Turki. "Euro 2032 tetap akan berlangsung. Saya berharap infrastrukturnya siap, jika tidak, maka Italia tidak akan menjadi tuan rumah," tegasnya.

Meskipun demikian, Ceferin tetap menunjukkan optimismenya terhadap masa depan sepak bola Italia. "Italia adalah salah satu negara terbesar dalam sepak bola dan akan kembali ke puncak. Masalah terbesar adalah hubungan antara politik sepak bola dan politik umum," ucapnya.

Ia meyakini bahwa jika semua pihak dapat berjalan searah, Italia bisa kembali menjadi juara Eropa dan dunia. Namun, Ceferin memperingatkan bahwa jika suasana negatif terus berlanjut, sepak bola Italia akan semakin terpuruk.

Recommended