Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja penjualan eceran nasional pada Maret 2026 akan mengalami pertumbuhan positif sebesar 9,3 persen secara bulanan (mtm). Capaian ini meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 yang tercatat sebesar 4,1 persen (mtm) menurut data yang dirilis Jumat (1/5/2026).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa lonjakan tersebut dipicu oleh peningkatan permintaan rumah tangga selama periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Dilansir dari Detik Finance, pertumbuhan ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diproyeksikan tumbuh 2,4 persen secara tahunan (yoy).
"Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang," kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI. Komoditas makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi motor penggerak utama indeks tersebut.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penguatan konsumsi pada kuartal I-2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data IPR menunjukkan angka 4,86 persen pada tiga bulan pertama tahun ini, naik dari 2,77 persen pada kuartal I-2025.
Faisal menyebutkan bahwa pertumbuhan ini banyak didorong oleh belanja masyarakat kelas atas, mengingat daya beli kelas menengah masih cenderung terbatas. Sektor esensial seperti bahan pangan masih mendominasi pengeluaran masyarakat dibandingkan sektor suku cadang kendaraan yang pertumbuhannya melambat.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengonfirmasi bahwa stabilnya penjualan ritel masih sangat bergantung pada kelompok makanan dan minuman. Namun, ia memberikan catatan mengenai potensi perlambatan pada kuartal II-2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mulai berdampak pada harga domestik.
Menurut Tauhid, penyesuaian harga BBM non-subsidi pada April 2026 diperkirakan akan memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Sentimen global ini diprediksi membuat sebagian masyarakat menahan pembelian barang non-esensial demi mengantisipasi kenaikan biaya hidup ke depan.