Prof. Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater terkemuka sekaligus Rektor Üsküdar University, memaparkan pandangannya mengenai rahasia ketenangan jiwa yang memadukan psikiatri modern dengan tradisi Tasawuf. Penjelasannya disampaikan dalam sebuah diskusi publik di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat, 3 April 2026, seperti dilansir dari Medcom.
Nevzat menekankan betapa krusialnya kualitas keimanan dalam menjaga kesehatan mental. Ia membedakan dua bentuk iman yang memengaruhi ketahanan batin. Pertama, Iman Tahqiqi atau Haqiqi, yaitu keyakinan yang didasari oleh riset, pencarian kebenaran, dan pemahaman mendalam. Menurutnya, iman inilah yang menjadi perisai utama bagi manusia modern dalam menghadapi berbagai tekanan hidup.
Kedua adalah Iman Taqlidi, yakni iman yang hanya berdasarkan ikut-ikutan atau warisan keturunan. Nevzat menilai iman jenis ini kurang kuat dalam menghadirkan ketenangan batin yang sejati. "Orang yang hatinya selalu 'terhubung' atau online dengan Allah, akan memiliki ketenangan luar biasa, seperti penumpang yang percaya penuh pada kapten pesawatnya," ujar Nevzat di VVIP Hall Masjid Istiqlal.
Menyikapi peningkatan kasus gangguan mental, terutama depresi, Nevzat menjelaskan bahwa depresi merupakan penyakit biologis yang diakibatkan ketidakseimbangan kimiawi di otak, seperti penurunan kadar serotonin dan dopamin. Ia menggarisbawahi pentingnya protokol penanganan yang seimbang.
Menurutnya, ketidakseimbangan kimia otak harus diatasi terlebih dahulu melalui pengobatan klinis untuk menstabilkan kondisi biologis. Setelah itu, penguatan spiritual melalui terapi psikologis berbasis keyakinan dapat berfungsi sebagai akselerator kesembuhan yang efektif.
Tidak hanya dikenal sebagai akademisi, Prof. Nevzat Tarhan juga diakui sebagai tokoh revolusioner dalam bidang kedokteran jiwa global. Ia adalah pendiri Üsküdar University pada tahun 2011, institusi pendidikan pertama di Turki yang berfokus pada kesehatan dan neurosains.
Di tingkat internasional, ia menjabat sebagai Presiden Asosiasi Neuro-Psikiatri Turki-Amerika dan aktif berkolaborasi dengan Asosiasi Psikiatri Amerika. Karyanya yang berjudul Rumi Therapy telah terjual lebih dari satu juta eksemplar di seluruh dunia. Buku ini membuktikan validitas ajaran Jalaluddin Rumi sebagai metode terapi klinis untuk mengatasi krisis mental di era modern.
Krisis Jiwa Modern dan Ajaran Rumi
Lebih lanjut, dalam forum bedah buku Terapi Rumi di Universitas Paramadina pada Selasa, 2 April 2026, Nevzat Tarhan menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri, depresi, kecanduan, dan kesepian. Fenomena ini, menurutnya, adalah gejala dari perubahan filsafat hidup manusia modern yang cenderung berorientasi pada kesenangan, egoisme, dan narsisisme, seperti yang diberitakan oleh KBA News.
Prof. Nevzat menyatakan bahwa ide-ide Rumi, yang lahir sekitar 700 tahun lalu, tetap relevan untuk mengatasi tiga ancaman besar yang dihadapi manusia modern: ketimpangan pendapatan, perubahan iklim, dan kesepian. Ia berpendapat bahwa di balik semua masalah tersebut terdapat hilangnya kebijaksanaan dalam peradaban kontemporer.
Banyak prinsip dalam psikologi positif, seperti pencarian makna hidup, empati, rasa syukur, welas asih, rekonsiliasi, dan harmoni, sesungguhnya sudah lama terkandung dalam ajaran Rumi. "Mereka mensistematisasi dan mengembangkan metodologinya, lalu menyebutnya psikologi positif," ungkapnya.
Peran Spiritualitas dalam Pendidikan dan Kebijakan Publik
Kunjungan Prof. Nevzat Tarhan ke Indonesia tidak hanya bertujuan untuk berbagi wawasan, tetapi juga untuk memperkuat hubungan akademik. Üsküdar University telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Paramadina dan membuka kantor perwakilan di Indonesia melalui Edutolia Education. Inisiatif ini diharapkan memfasilitasi riset bersama di bidang neurosains.
Diskusi yang diselenggarakan oleh Edutolia Education dan Üsküdar University, didukung oleh Metro TV dan Medcom.id sebagai media partner, diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual melalui penguasaan sains, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang bersumber dari kejernihan spiritual. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa tanpa kebijaksanaan, peradaban akan kehilangan arah.
Tarhan juga menanggapi perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Ia menegaskan bahwa teknologi secanggih apapun tetap merupakan konstruksi manusia yang memiliki keterbatasan. "Tugas utama tetap sama, yaitu membebaskan hati manusia dari keterikatan berlebihan pada dunia dan menghubungkannya dengan Tuhan," ujarnya.