PSSI membuka peluang untuk memperpanjang larangan tur tandang pada musim depan. Hal ini disebabkan masih maraknya keributan antarsuporter, terutama dalam kompetisi BRI Super League 2025/2026.
Bentrok terbaru melibatkan pendukung Persijap Jepara dan Persis Solo setelah pertandingan di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, pada Kamis (5/3/2026).
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyayangkan bahwa suporter seperti melupakan tragedi Kanjuruhan yang menewaskan setidaknya 135 orang pada Oktober 2022.
"Ini suporternya lupa sama tragedi Kanjuruhan dan lain-lain. Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga," ujar Arya.
PSSI telah memberlakukan larangan tur tandang dalam tiga musim terakhir. Meski begitu, beberapa pendukung tetap nekat melakukan awaydays, meskipun klub kesayangan mereka berisiko terkena denda dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Sebagian suporter mampu membuktikan bahwa tur tandang dapat berjalan kondusif tanpa gesekan. Namun, tak jarang pula yang berakhir dengan ketegangan.
"Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh tandang, tapi tetap saja dilanggar. Kemarin juga ada itu satu pertandingan tandang, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya'. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu," kata Arya.
Pertimbangan PSSI
Keributan suporter yang terus berulang membuat PSSI kesulitan mempertimbangkan pelonggaran aturan tur tandang dalam waktu dekat.
"Ini tidak hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu. Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka," ucap Arya.
"Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kita tetap membuat larangan away."
"Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir musim. Jadi, ini kondisi rawan," ungkapnya.
Kekhawatiran Jelang Akhir Musim
Kondisi semakin mengkhawatirkan menjelang akhir musim. Persaingan di papan atas maupun bawah BRI Super League dan Championship Series memanas, memicu tensi emosional tinggi di antara pendukung.
"Ini yang kita harapkan, mudah-mudahan. Ini perangkat pertandingan dikejar-kejar, semua dikejar-kejar, infrastruktur stadion dirusak. Mereka tidak tahu di luar Pulau Jawa itu stadion saja tidak ada, sangat disayangkan punya stadion seperti itu," jelas Arya.
Diskusi ketat sedang dilakukan PSSI, termasuk dengan pihak keamanan, untuk membahas detail kondisi ini. Hal ini karena akhir kompetisi, baik Super League maupun Championship, dinilai rawan terkait promosi dan degradasi.
Persaingan ketat terjadi di papan atas Super League untuk meraih juara, sementara di papan bawah tim berjuang menghindari degradasi. Kondisi ini membutuhkan perhatian khusus.
Imbauan untuk Suporter
Arya menegaskan bahwa PSSI tidak bisa terus-menerus mengambil risiko keselamatan hanya demi mengakomodasi keinginan sebagian suporter yang belum bisa menjaga ketertiban di luar kandang.
"Untuk musim depan? Kalau seperti ini terus, jangan salahkan federasi ketika itu diterapkan," papar Arya.
"Karena kita tidak bisa disiplin dan tidak bisa menunjukkan bahwa kita mampu untuk itu, malu. Kita setiap pertandingan kursi di lempar-lempar, dibongkar, apa itu," ujar tangan kanan Ketua PSSI, Erick Thohir, tersebut.