PTN Sulit Terapkan Kuliah Online Penuh di Tengah Isu Kenaikan Harga BBM

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menghadapi tantangan dalam penerapan kuliah daring penuh meskipun ada imbauan penghematan energi akibat isu kenaikan harga BBM.

Isu mengenai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2026 menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kabar tersebut beredar luas, menyebutkan bahwa keterbatasan pasokan BBM akibat konflik di Timur Tengah akan memicu kenaikan harga bensin. Di tengah wacana efisiensi energi yang digaungkan, institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi, juga turut mempersiapkan strategi adaptasi.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTNI), Eduart Wolok, menyoroti kendala bagi kampus dalam mengimplementasikan kuliah daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara menyeluruh. "Di perguruan tinggi itu kalau kita lakukan PJJ 100 persen sulit karena ada kuliah terkait praktikum," jelas Eduart, seperti dilansir dari Medcom, pada Selasa, 31 Maret 2026.

Meskipun demikian, PTN menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya penghematan energi. Setiap kampus didorong untuk menyusun langkah-langkah efisiensi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. "Prinsipnya kita tetap men-support gerakan hemat energi itu dan saat ini sementara disusun dan disesuaikan masing-masing kampus," tambah Eduart.

Koordinasi antara rektor PTN terkait langkah efisiensi sudah berjalan. Namun, implementasi di setiap kampus dimungkinkan untuk berbeda, meskipun kebijakan umumnya seragam. Eduart menjelaskan bahwa belum ada keputusan final karena setiap perguruan tinggi memiliki konteks dan kebutuhan yang unik.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, telah menegaskan bahwa belum ada pengumuman resmi mengenai perubahan harga BBM jenis Pertamax. Oleh karena itu, informasi mengenai proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar di media sosial dinyatakan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Recommended