Quartararo Frustrasi, Yamaha Dinilai Tak Pahami Masalah Motor V4

Fabio Quartararo menyuarakan kekecewaan terhadap Yamaha yang dinilai belum memahami masalah mesin V4 M1. Ia bahkan menyoroti kurangnya perkembangan nyata.

Pembalap tim Monster Energy Yamaha MotoGP, Fabio Quartararo, telah memperingatkan timnya mengenai masalah serius yang dihadapi motor YZR-M1. Kekecewaan Quartararo semakin memuncak menyusul hasil balapan yang buruk di Grand Prix Amerika Serikat. Ia merasa Yamaha belum memahami sepenuhnya keseriusan kendala yang ada pada mesin V4 terbaru mereka, dilansir dari Bola dan RiderTua.

Meskipun Yamaha telah melakukan perubahan signifikan, termasuk pengadopsian mesin V4, performa motor belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Dalam balapan terakhir di Austin, seluruh empat motor pabrikan Jepang tersebut finis di posisi terbawah, dengan Quartararo menempati posisi ke-17. Bahkan, pembalap rookie Toprak Razgatlioglu dari tim Pramac dan Jack Miller berhasil finis di depannya.

Quartararo menilai bahwa timnya seolah mengabaikan data yang ada. Dalam pertemuan teknis, para insinyur Yamaha kerap membanggakan peningkatan waktu lap sekitar setengah detik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pembalap asal Prancis ini menyoroti bahwa pabrikan lain justru berhasil lebih cepat satu detik penuh, mengakibatkan jarak performa yang semakin lebar dan frustrasi yang terus meningkat.

Pembalap berjuluk 'El Diablo' ini juga telah memutuskan untuk mengambil jarak dari proses pengembangan motor Yamaha. Baginya, membandingkan waktu lap hanya di internal tim tanpa memperhatikan kemajuan kompetitor tidak memiliki manfaat. Ia menegaskan bahwa kondisi cuaca tidak menjadi alasan jika performa dasar motor masih kalah dari Ducati dan KTM.

“Saya rasa, baik cuaca cerah atau hujan, saya tidak tahu mana yang lebih menguntungkan, tapi yang jelas kami harus berhenti terlalu fokus membandingkan waktu lap. Karena kami hanya membandingkan di dalam tim. Memang kami setengah detik lebih cepat dari tahun lalu, tapi tim lain bisa lebih cepat satu detik penuh,” ungkap Quartararo dengan nada frustrasi, dikutip dari RiderTua.

Sirkuit Jerez dan Le Mans, yang secara tradisional cocok dengan karakter Yamaha YZR-M1 karena alurnya yang mengalir, akan menjadi ujian berat. Tahun lalu, Quartararo berhasil meraih pole position di Jerez dan bersaing ketat hingga akhir balapan. Namun, untuk musim 2026 ini, ia telah memberikan sinyal bahwa situasinya akan jauh berbeda, bahkan tidak ke arah yang lebih baik.

Quartararo berharap Jerez bisa menjadi 'momen kenyataan pahit' bagi para insinyur Yamaha. Jika di lintasan yang biasanya kuat, mereka mencatatkan waktu lap lebih lambat dari tahun lalu, hal itu akan menjadi bukti nyata bahwa arah pengembangan saat ini kurang tepat. Ia berharap tim bisa menyadari perlunya perubahan drastis.

“Jadi ini juga akan jadi hal yang baik untuk tim, melihat bahwa catatan waktu di sirkuit seperti Jerez dan Le Mans jauh lebih lambat dibanding tahun lalu. Saya pikir akan baik bagi para insinyur bisa menyadarinya,” kata Quartararo.

Pesan tegas dari Quartararo ini menunjukkan bahwa ia lebih memilih kenyataan pahit yang terlihat jelas, demi mendorong perubahan besar atau tindakan drastis dari tim Jepang. Situasi di klasemen juga mencerminkan kondisi sulit ini.

Setelah tiga balapan pertama tahun 2026, Quartararo hanya mengumpulkan 6 poin. Rekan satu pabrikan Alex Rins baru mengoleksi 3 poin, Toprak Razgatlioglu 1 poin, dan Jack Miller belum mencetak poin sama sekali. Yamaha saat ini terperosok di dasar klasemen konstruktor, dan Jerez bisa menjadi titik terendah mereka jika tidak ada solusi cepat.

Alex Rins, pembalap Yamaha lainnya, juga mengungkapkan rasa frustrasinya di MotoGP AS. Ia mengaku kehilangan motivasi dan merasa tidak berguna di lintasan, terutama karena masalah teknis saat keluar tikungan. Krisis performa ini semakin nyata setelah Rins finis di posisi paling buncit di Circuit of the Americas, tertinggal lebih dari 38 detik dari pemenang.

Kondisi ini menegaskan bahwa Yamaha tengah dalam fase sulit pembangunan ulang proyek mereka, termasuk pengembangan mesin V4. Tekanan semakin besar setelah Quartararo memutuskan untuk meninggalkan tim pada musim depan. Para petinggi Yamaha pun mengakui bahwa tim memiliki pekerjaan rumah besar untuk kembali kompetitif.

Fabio Quartararo juga membeberkan kelemahan mesin V4 pada motor Yamaha selama tes pramusim di Sepang dan Buriram. Menurutnya, meskipun mesin merupakan langkah besar dalam peningkatan, hal itu bukanlah segalanya. Kemampuan berbelok motor dan cengkeraman ban saat ini menjadi titik terlemah motor YZR-M1.

“Saya rasa mesin adalah langkah besar dalam peningkatan kami, tetapi bukan semuanya. Misalnya, kemampuan berbelok motor dan cengkeraman ban adalah titik terlemah saat ini,” ujar Quartararo, seperti dikutip dari Bola.

Ia menambahkan bahwa meskipun tenaga mesin belum maksimal, masalah utamanya adalah ketidakmampuan motor untuk berbelok dengan baik dan mencetak waktu putaran dengan mulus. Hal ini menunjukkan bahwa Yamaha masih perlu bekerja keras untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara tenaga dan kemampuan manuver motor.

Para pembalap Yamaha, termasuk Alex Rins dan Quartararo, kini dihadapkan pada tantangan berat untuk bangkit. Jika solusi tidak segera ditemukan, krisis performa ini berpotensi berlanjut sepanjang musim dan memengaruhi masa depan tim di ajang MotoGP.

Recommended