Analis Mirae Asset Waspadai Kenaikan PHK di Tengah Stabilitas Fiskal

Analis Mirae Asset menyoroti risiko kenaikan PHK di sektor padat karya meski stabilitas fiskal dan pasar keuangan Indonesia terpantau masih terjaga.

Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menyoroti potensi risiko pelemahan pasar tenaga kerja domestik akibat peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jakarta pada Jumat, 17 April 2026. Meski stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan Indonesia saat ini dinilai solid, tekanan biaya pada industri padat karya menjadi ancaman nyata.

Berdasarkan data dari KSPI dan Apindo, angka PHK diperkirakan telah mencapai sekitar 100 ribu pekerja per 26 Februari 2026. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya energi serta harga input impor yang menekan margin keuntungan perusahaan di sektor formal.

"Jika tekanan biaya terus berlanjut tanpa intervensi kebijakan jangka pendek, risiko kontraksi lapangan kerja formal bisa semakin besar dan pada akhirnya menekan konsumsi rumah tangga," ujar Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset, dilansir dari Medcom.

Kelesuan ini juga ditandai dengan pergeseran penyerapan tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal. Sektor informal cenderung memiliki tingkat produktivitas dan standar upah yang lebih rendah dibandingkan lapangan kerja formal yang stabil.

Di sisi lain, disiplin fiskal Indonesia mendapatkan pengakuan internasional setelah lembaga pemeringkat S\&P mempertahankan peringkat investasi BBB dengan outlook stabil. Penilaian ini didasarkan pada komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah angka 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Investigasi Section 301 oleh Amerika Serikat terhadap surplus perdagangan Indonesia juga dinilai Jessica tidak sepenuhnya relevan dengan struktur ekonomi nasional. Surplus sebesar USD31 miliar pada 2024 didominasi oleh komoditas mentah seperti nikel dan batu bara, bukan distorsi manufaktur.

Pasar keuangan tetap menunjukkan ketahanan dengan penguatan nilai tukar Rupiah ke level Rp17.136 per dolar AS. Indeks Dollar (DXY) terpantau stabil di kisaran 98, yang turut mendukung penguatan instrumen investasi domestik.

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 6,58%, sementara aliran modal asing yang masuk ke SBN mencapai Rp11,6 triliun. Kepemilikan asing pada pasar obligasi kini berada di angka 12,7%, yang merupakan level tertinggi sejak awal Maret 2026.

Recommended