Rupiah Tak Hancur Akibat Perang Timur Tengah, Ini Kata Menkeu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan rupiah hancur akibat perang di Timur Tengah, dengan depresiasi hanya 0,3%.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak anggapan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk akibat konflik di Timur Tengah. Menurutnya, pelemahan rupiah saat terjadi perang relatif minimal.

Purbaya menjelaskan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa data historis menunjukkan depresiasi rupiah hanya sekitar 0,3% setiap kali terjadi perang. Angka ini, menurutnya, mencerminkan ketahanan rupiah yang cukup baik dalam menghadapi gejolak global.

"Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang rupiah hanya terdepresi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahanan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin," ujar Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Purbaya menegaskan bahwa penilaian rupiah hancur tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia berpendapat bahwa investor yang benar-benar berinvestasi di Indonesia masih menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi negara.

Sebagai contoh, Purbaya menyebutkan bahwa indikator risiko negara seperti Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun masih stabil. Selain itu, spread Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury juga tidak banyak berubah.

"Terus kalau kita lihat yang CDS, IDR 5 year, 5 tahun, masih relatif stabil . Gambar yang kanan atas Pak, itu adalah spread dari SBN terhadap treasury. Di Januari 25, 240 basis point. Sekarang 243 basis point. Naiknya hanya terbatas 0,3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya," jelas Purbaya.

Bendahara Negara ini menambahkan, data arus modal menunjukkan keyakinan investor terhadap pasar keuangan domestik. Pada bulan Maret, misalnya, meskipun terjadi outflow SBN sekitar Rp 0,7 triliun, terdapat inflow ke instrumen SRBI sekitar Rp 2,2 triliun serta inflow di pasar saham sekitar Rp 2,2 triliun.

"Jadi setelah goncang-goncang-goncang, di bulan Maret sepertinya masih masuk ke sini Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang," tutup Purbaya.

Recommended