Rupiah Tembus Rp 17.105 per Dolar AS, BI Optimalkan Instrumen Moneter

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp 17.105 per dolar AS pada 7 April 2026. Bank Indonesia optimalkan instrumen moneter dan intervensi pasar.

Nilai tukar rupiah mencatatkan pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 7 April 2026. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat intervensi dan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter yang tersedia.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa stabilitas rupiah merupakan prioritas utama bank sentral di tengah tingginya ketidakpastian global, seperti dilansir dari Detik Finance. Bank Indonesia akan memanfaatkan sepenuhnya instrumen operasi moneter serta kebijakan yang ada demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Intervensi BI dilakukan secara konsisten dan terukur di berbagai pasar, termasuk pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Langkah ini bertujuan meredam volatilitas rupiah yang dipicu sentimen global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pelemahan rupiah ini turut dipengaruhi oleh investor yang bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump telah memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, seperti diberitakan Tempo.

Destry Damayanti menegaskan bahwa dampak konflik di Timur Tengah bersifat dua arah. Meskipun menyebabkan tekanan pada nilai tukar, kenaikan harga komoditas global justru dapat memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara eksportir, posisi ini dinilai mampu mengimbangi tekanan yang muncul.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dikutip dari Katadata, memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meskipun rupiah melemah. Proyeksi defisit APBN tahun ini diperkirakan akan tetap terjaga di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau di bawah batas maksimum 3% yang diizinkan undang-undang.

Purbaya menyatakan bahwa simulasi ketahanan APBN telah mempertimbangkan kenaikan asumsi kurs rupiah pada level tertentu, meski enggan menyebutkan angka pastinya. Dengan asumsi rata-rata harga minyak US$ 100 per barel, defisit APBN tetap terkendali.

Tindakan Intervensi BI dan Kondisi Pasar

Data Bloomberg menunjukkan, pada pagi hari sekitar pukul 09.14, nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.078, mengalami kenaikan 43,00 poin atau 0,25% dari penutupan perdagangan sebelumnya. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga melemah ke Rp 17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.037 per dolar AS.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya telah menyatakan bahwa BI melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dengan menyesuaikan respons terhadap tiga skenario dampak perang: jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah, dan tinggi. Upaya ini diperkuat dengan menjaga cadangan devisa dan kebijakan suku bunga.

Perry Warjiyo menekankan pentingnya terus memperkuat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk memitigasi dampak konflik global. Kinerja NPI yang kuat diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Faktor Domestik dan Cadangan Devisa

Menurut Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef, Muhammad Rizal Taufikurahman, pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor global dan domestik. Secara global, eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan memperkuat dolar AS, memicu arus modal keluar dari negara berkembang.

Namun, Rizal juga menyoroti faktor domestik yang memperburuk tekanan terhadap rupiah. Ia menjelaskan, surplus perdagangan mulai menyempit akibat perlambatan ekspor. Pada Februari 2026, ekspor hanya tumbuh sekitar 1%, sementara impor meningkat seiring kenaikan harga energi.

Defisit APBN hingga Maret 2026 yang mencapai sekitar Rp 240 triliun menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan pembiayaan fiskal. Selain itu, tekanan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan aksi jual bersih investor asing sekitar Rp 3,35 triliun pada akhir Februari 2026, serta perubahan outlook lembaga pemeringkat menjadi negatif, turut memperbesar persepsi risiko terhadap aset rupiah.

Penurunan cadangan devisa Indonesia dari sekitar US$ 154,6 miliar menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 juga menjadi indikasi adanya biaya besar dalam menjaga stabilitas nilai tukar, menurut Rizal.

Data terakhir menunjukkan, Neraca Perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$ 1,27 miliar, meningkat dari surplus Januari 2026 sebesar US$ 0,95 miliar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap terjaga sebesar US$ 151,9 miliar, setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Recommended