Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan AS, Israel, Iran, dan potensi gangguan di Selat Hormuz.
Pada perdagangan pagi, data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 59 poin atau 0,35 persen ke level Rp16.931 per dolar AS. Sementara pada penutupan perdagangan Jakarta hari Selasa, rupiah tercatat melemah tipis 4 poin menjadi Rp16.872 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa meluasnya konflik antara AS, Israel, Iran, dan Lebanon menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Perang udara yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan kapal tanker di Selat Hormuz, memperburuk situasi.
Kondisi ini menyebabkan perusahaan asuransi membatalkan perlindungan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, sehingga tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak. Pasar juga khawatir dengan pernyataan pejabat senior Garda Revolusi Iran yang menyatakan Selat Hormuz ditutup.
Gangguan di jalur vital ini memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, yang berdampak pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Respons Bank Indonesia
Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi akan dilakukan secara tegas dan konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Destry menambahkan, "Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun."